POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 2)

June 9th, 2009 No Comments »

Perkataan-Nya dalam dirinya sendiri adalah Perbuatan.

Sekarang saya memperhatikan alam semesta yang mengelilingi kita dan berpikir bagaimana segala sesuatu terjadi (tercipta) dan berusaha untuk memecahkan misteri yang disandikannya, dan perhatikanlah! saya melihat bahwa seluruh alam semesta ini tidak lain adalah sebuah Pohon.
Pohon yang cahaya kehidupannya datang dari sebuah benih yang pecah ketika Allah berkata kun! Benih dari huruf K dipupuk dengan huruf N dari nahnu (Kami), tercipta ketika Allah berfirman :

Kami lah yang telah menciptakanmu
(Q.S Al-Waqi’ah,57)

Kemudian dari gabungan dua benih ini tumbuh dua tunas yang bersesuaian dengan janji Allah :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan fithrahnya
(Q.S Al-Qamar, 49)

Tetapi akar dari dari dua tunas ini hanyalah tunggal.
Akar itu adalah Kehendak Sang Pencipta, dan apa yang menumbuhkannya adalah Kekuasaan-Nya.
Kemudian dari esensi huruf K dari kata ilahiah kun, lahirlah dua makna yang berlawanan :
Kamaliyah, kesempurnaan, sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya :

Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu dan telah Kulengkapkan Rahmat-Ku padamu serta Kupilihkan Islam sebagai agamamu.
(Q.S. Al-Ma’idah,3)

dan kufriyyah, keingkaran (kekufuran), sebagaimana firman Allah:

Maka sebagian dari mereka beriman dan sebagian lagi kufur
(Q.S. Al-Baqarah, 253)

Demikian juga dari hakikat kata N beremanasi makna-makna berlawanan dari nur al-ma’rifah (cahaya pengetahuan) dan nakirah (gelapnya kebodohan). Karena itu ketika Allah mengeluarkan mahluk-Nya dari Harta Tersembunyi ketidakberadaan menuju eksistensi, bersesuaian dengan keadaan dan bentuk yang telah ditetapkan sebelumnya (kodratnya), Dia memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Siapapun yang terkena cahaya itu dapat melihat Pohon Eksistensi yang tumbuh dari benih perintah ilahiah kun yang melingkupi seluruh alam semesta. Dan mereka yang tercerahkan ini mengetahui rahasia K dalam kata kuntum (kamu), sebagaimana firman Allah :

Kamu sekalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan, yang menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kamu beriman kepada Allah
(Q.S. Ali ‘Imran, 109)

Mereka juga menembus makna tersembunyi dari kata terakhir N dari kun sebagai nur (cahaya), sebagaimana firman Allah :

Apakah dia yang hatinya telah Allah bukakan kepada Islam sehingga dia mengikuti cahaya dari Tuhan-nya (tidak lebih baik dari dia yang keras hatinya)?
(Q.S Az-Zumar,22)

Tetapi mereka yang menyembunyikan dirinya sendiri dari cahaya ilahiah ketika Allah memancarkannya pada mahluk-Nya juga berkewajiban mengetahui makna tersembunyi dari huruf-huruf kata kun sebagaimana Allah mengucapkannya. Barangsiapa yang dirinya tetap ada dalam kegelapan akan gagal mengetahui kebenaran dan membayangkan huruf K singkatan dari kufr, yang maknanya kegelapan dimana mereka berdiri didalamnya, menyembunyikan segala sesuatu dari mata. Mereka akan membayangkan bahwa huruf N singkatan dari nakirah, yang berarti kebodohan. Mereka menjadi putus asa, dan dalam keputusasaannya tidak dapat mempercayai Pencipta-nya.

Dengan demikian banyak dari segala sesuatu yang diciptakan tergantung pada bagian pemahamannya atas misteri dua huruf tersebut, yang menjadi penyebab setiap eksistensi. Buktinya ada dalam kata-kata Rasulullah, yang bersabda :
Sesungguhnya Allah menciptakan mahluk dalam alam kegelapan total, kemudian memancarkan cahaya ilahiah-Nya terhadapnya. Barangsiapa yang terterangi oleh cahaya tersebut akan tercerahkan dan terbimbing dengan baik. Dan barangsiapa tersembunyi dari cahaya tersebut dan tak tersentuh dengannya akan sesat dan rugi.
(Ahmad bin Hanbal)

Ketika bapak kita Adam, manusia pertama yang Allah ciptakan, membuka matanya – ketika Allah meniupkan ruh-Nya padanya- dia memperhatikan eksistensi lainnya. Dan dia melihat bahwa itu adalah sebuah lingkaran. Segala sesuatu berevolusi sekitar lingkaran Kemenjadian dan Kemengadaan. Kenyataannya ada dua lingkaran, yang satu berupa api dan lainnya adalah tanah yang basah. Dan dia melihat bahwa evolusi alam semesta adalah manifestasi dari perintah ilahi kun – sebab, kekuatan, urutan kemenjadian sebab akibat, tanpa gagal dan selamanya datang darinya.

Sebagaimana tidak ada dan tak ada sesuatu pun yang keluar dari lingkaran berputar ini, begitupun tidak ada yang dapat dikecualikan, ia adalah apa yang mereka lihat dan mereka peroleh. Sebagian akan melihat K sebagai Kesempurnaan dan berjuang untuk sempurna, dan sebagian akan melihatnya sebagai Kekufuran dan menjadi orang kafir. Sebagian akan mendapat pencerahan dalam makna huruf N dan menjadi bijak, yang lainnya akan menemukan kenyamanan dalam ketidakpeduliannya dan mengira huruf N sebagai pilihan pada kebodohan atas kesadaran.

Tak ada yang dapat menyelamatkan mereka dari akibat kepercayaannya pada apa yang mereka pandang sebagai kebenaran. Ini ditetapkan oleh Dia yang menciptakan mereka dan apa yang mereka lihat, serta apa yang mereka pahami dari apa yang mereka lihat. Setiap orang terikat untuk tetap dalam keliling lingkaran yang diatasnya mereka berputar. Tak ada yang bisa menjadi selain dari apa yang Dia kehendaki yang berkata Jadilah!, dan semuanya terjadi. Segala sesuatu menghadap ke pusat lingkaran kun dan tergantung padanya dalam segala perwujudannya.

Kemudian engkau juga melihat pada Pohon Eksistensi itu, yang dahan-dahannya melingkupi seluruh alam semesta. Meskipun setiap dahan, setiap daun, setiap buah berbeda, mereka semua berasal dari benih tunggal, benih cinta yang dinamakan kun. Ketika bapak kita Adam dibawa Allah ke sekolah untuk belajar, untuk menjadi manusia yang ditetapkan menjadi khalifah Allah di alam semesta ini, pertama kali dia diajarkan semua nama segala sesuatu yang eksis.
Kemudian dalam kekaguman dia berjumpa dengan kata kun, perintah ilahiah Jadi, sebab dari semua yang ada. Apa artinya? Dia mencari maksud Dia yang membawa semua ini menjadi ada dan melihat bahwa huruf pertama K berhubungan dengan kata kanziyyah (Harta Yang Tersembunyi), ketika Allah berfirman :

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku suka untuk dikenal, maka Aku ciptakan mahluk sehingga dengan demikian Aku dapat dikenal.

Dan dalam kata terakhir N, dia melihat identitas Pencipta, ketika Dia berkata Ana Allah (Aku adalah Allah)

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku
(Q.S. Thaa Haa, 14)

Kemudian setelah beberapa kejadian, diturunkan padanya bahwa K pada kanziyyah menunjukkan pemberian dari Allah atasnya dan keturunannya dalam kata karam (kemuliaan) Tuhannya, seperti yang dijanjikan dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya Kami memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizki dari  yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka jauh diatas kebanyakan mahluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna
(Q.S Bani Isra’il, 70)

Dan juga, K berarti untuk Adam adalah kuntiyyah (menjadi, dari ‘Saya menjadi’) dalam janji Allah, ketika Dia berfirman : Continue reading »

Dzikr dan ‘Ilmu Hudhuriy

May 27th, 2009 2 Comments »

Ia, - Allah-, hakikat semua yang maujud, menunjukkan diri-Nya Yang Mahasejati kepada semua yang maujud dengan diri-Nya sendiri. Bukan dengan apapun selain diri (baca juga; Zat) - Nya. Bukan pula dengan semua intellegebles yang ada dalam alam mental manusia yang dikreasi secara hushuliy (representasional) oleh mental manusia. Subhanalloohi ‘amma yashifuun. (Maha Suci Allah atas apa semua yang mereka sifatkan)   . Mereka sifatkan, mereka merupakan bentuk jamak dan jelas menunjukkan bahwa subyek pensifatan yang batil ini bukan Ia sendiri. Illa ‘ibaadalloohil-mukhlashiin. (Kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas). Mukhlashiin, bentuk pasif yang bukan merupakan pelaku (fa’il) tapi yang dikenai pekerjaan (maf’ul), kenapa? Karena mutlak yang merupakan pelaku sebenarnya penyifatan Allah yang benar adalah diri-Nya sendiri.

Maka orang yang telah mencapai al-faqr (kefakiran ruhani), tidak merasa memiliki apapun. Semua kebaikan, keagungan, kebenaran, - baginya-, benar-benar milik Allah belaka. Dan Allah - pun akan mengingat (baca juga; melakukan dzikr) atas Zat - Nya sendiri melalui para fakir ruhani ini dengan menggetarkan segenap manifestasi wujud sang fakir dengan Nama-Nama - Nya.

Sebaliknya banyak orang yang telah berzuhud meninggalkan dunia tapi merasa memiliki satu kedudukan rohani (baca; maqam) tertentu di sisi Allah. Ibadahnya terasa amat lezat dengan bertambahnya kedudukannya di sisi Allah. Alih - alih mereka berjalan di muka bumi dengan teramat rendah hati, di balik cahaya benderang wajahnya yang menawan di relung terdalam hati terselip satu pandangan bahwa amalannya atau minimal kondisi hatinya cukup baik , dan lebih baik dari rata - rata manusia di dunia. Ohh…, apakah mereka lupa setitik sombong akan mencegah mereka dari surga. Dan apakah mereka lupa, Pemimpin Orang-Orang Beriman, Imam ‘ Ali bin Abi Thalib (a.s.) merintih; wa khoda’atnii dunya bi ghuruurihaa, wa nafsii bi jinaayatihaa wa mithoolii , dan dunia telah memperdayakanku dengan tipuan-tipuannya, dan diriku (telah tepedaya) karena ulahnya ?

Dimitri sebagai dimitri tak mengenal apa-pun, buta dalam lautan relativisme uber ales (baca; relativisme dalam segala hal) . Kehadiran diri - Nya dalam “bayangan kosong dimitri” lah yang merupakan kebenaran absolut dan merupakan satu - satunya yang pantas disebut sebagai ilmu.  Contohnya ? Prinsip identitas, prinsip non-kontradiksi, dan lain-lain. Jadi ? Semua ‘ilmu adalah ‘ilmu hudhuriy, saat Allah mengingat diri - Nya sendiri melalui pancaran Nama-Nama - Nya. Apa artinya? Subyeknya Allah, Obyek Yang Diketahuinya -pun Allah, maka terucaplah yaa man dalla ‘ala dzaatihi bidzaatihi, wahai yang menunjukkan atas Zat-Nya dengan Zat-Nya !

Dan bagaimana untuk memperkuat intensitas ilmu hudhuriy seiring dengan menambah kesadaran kita akan kefakiran mutlak kita? Bukankah Qur’an Suci telah menyatakan; “ Dan sesungguhnya mengingat Allah (dzikrullah) adalah  lebih besar.”  Atau; “ Ingatlah kamu kepada - Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu.”   Maka, jika kita mengingat Allah, - yang bahkan meliputi seluruh manifestasi wujud kita-, Allah akan menghadirkan ingatannya kepada diri kita. Sebagaimana dikisahkan ketika satu dari ahli dzikir yang amat tekun, - Maha Guru Husein bin Mansur Al - Hallaj -, di penjara pada hari pertama beliau menghilang dari penjara, sedang pada hari kedua penjaranya hilang. Maka di hari ketiga penjaga menanyakan kepadanya tentang hal tersebut, beliau menjawab, “ Hari pertama aku pergi ke hadhirat Tuhan maka aku menghilang, sedang di hari kedua Tuhan hadir sehingga penjara pun hilang.”

wallohu a’lam bish-showwab

POHON EKSISTENSI IBNU ‘ARABI (Bagian 1)

May 10th, 2009 1 Comment »
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang perkataan yang baik sebagai sebuah pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan dahan-dahannya menjulang tinggi? (Q.S. Ibrahim, 24)

Dengan Nama Allah  Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Yang Tunggal dan Hanya Tunggal dalam Hakikat-Nya serta unik dalam Sifat-sifat-Nya. Maha Suci Dia yang Rahmat-Nya meliputi semua, yang menyebar ke semua arah. Kemurnian-Nya bebas dan bersih dari segala sesuatu yang dapat dilihat dan dibayangkan.

Dia bergerak ke tempat-tempat yang tak terbatasi oleh enam penjuru. Dia melakukan apa yang Dia lakukan tanpa bertindak atau berbuat. Dia melihat segala sesuatu tanpa memandang.

Dia sangat jauh diatas makna dari segala sesuatu ini.
Keunikan-Nya tidak memperkenankan apa pun menyerupai Dia, dan juga tak ada apapun yang bisa memiliki atau melekatkan dirinya pada Nya. Kekuasaan-Nya selalu mencapai tujuannya dan tak pernah sia-sia.

Kehendak-Nya yang mendominasi semua tidaklah memiliki kesamaan dengan hasrat-hasrat rendah sifat manusia, juga Kehendak-Nya senantiasa tidak akan berubah dengan kehendak makhluk-Nya; demikian juga tidak akan menjadi lawan terhadap permohonan makhluk-Nya. Sifat-sifat Ilahiah-Nya, yang Dia manifestasikan pada makhluk-Nya, tidak bertambah atau berkurang ketika dibagi diantara mereka, karena segala Sifat-Nya tidak lain adalah tunggal.

Dia adalah sebab segala sesuatu. Dan ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi, semua yang Dia perlu lakukan adalah berkata kun (Jadilah !), maka terjadilah semua yang ada. Semua yang maujud lahir dari makna rahasia terdalam yang tersembunyi dari kata KUN ini. Bahkan semua yang tersembunyi dari mata dan pikiran adalah tidak lain kecuali hasil dari suara misterius ini.

Sebagaimana Allah Ta’alaa berfirman :

Ketika Kami menghendaki sesuatu terjadi, Kami hanyalah berkata kun, maka jadilah ia. (Q.S An-Nahl, 40)

Bersambung ke bagian 2

* *

Dari buku The Tree of Being (Shajarat al-Kawn) An Orde to the Perfect Man karangan Ibn’ Arabi. Diterjemahkan oleh AAUWABDDAM (Ayatullah Al Uzma Wa’Arif Billah Deddy Djunaidi Antafani Masyhadi).

Menatap Muhammad Purnama Rindu

March 25th, 2009 2 Comments »

Menatap Muhammad purnama rindu
tiada mentari yang tak malu
tiada lidah yang tak kelu
tiada hati yang tak menderu
tiada pula bintang gemintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad, aakulah geletar cahaya Muhammad , akulah geletarr cahaya Muhammad dan tiapa pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad rembulan rindu
tiada bestari yang tak syahdu
tiada melodi yang tak sendu
tiada jemari yang tak beradu
tiada pula badai taupan yang tak bertiup kencang menahan segenap hasratnya
meronta akuulah dahsyat cahaya Muhammad, aakulah dahsyat kuat Muhammad, aakulah dahsyat cahaya Muhammad dan tiada pula sepoi yang tak bertiup-tiupan menanti persuaan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad gemerlapan rindu
tiada jauhari yang tak bersatu
tiada cinta yang tak berpadu
tiada rindu yang tak bertalu
tiada hidup yang tak baharu
tiada pula puncak merapi yang tak bergolak kawah menahan segenap takjubnya
meletup aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad, aakulah gelora cahaya Muhammad dan tiada pula gempa yang tak bergoyang-goyang gelisah akan pertemuan dengan mu duhai Muhammad

Menatap Muhammad alifnya rindu
tiada ba` yang tak melengkung
tiada ‘ain yang tak mencekung
tiada penglihatan yang tak tercenung
tiada mata yang tak berpalung
tiada pula samudera yang tak menggelegak ombak menahan segenap asmaranya
mendeburr aakulah gelombang cahaya Muhammad, aakulah gelombang cahaya Muhammad , akulah gelombang cahaya Muhammad dan tiada pula ikan dan buih yang tak menari resah menanti perhelatan denganmu duhai Muhammad

Menatap Muhammad hakikat rindu
tiada mata yang tak nanar
tiada bejana yang tak lubar
tiada pedang yang tak lumar
tiada zirah yang tak lumat
tiada pula bumi-bumi yang tak bergempaan menahan segenap cintanya
menggoncang akulah goncang cahaya Muhammad, aakulah goncang cahaya Muhammad, akulah goncang cahaya Muhammad dan tiada pula kendi-kendi yang tak berpecahan menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Meresapi Muhammad mawar-melati rindu
tiada tangkai yang tak tertekuk
tak pula hidung yang tak tertenung
tiada daun yang tak mendayu
tak pula indera yang tak merenung
tiada pula kata-bahasa yang tak terpatah resah menahan segenap takjubnya
merintih akulah takjub cahaya Muhammad, akulah suci cahaya Muhammad, akulah diam cahaya Muhammad dan tiada pula lidah-kelu yang tak berdiaman menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Menatap Muhammad merak rindu
tiada bahari yang tak menderu
tiada anjungan yang tak berderak
tiada hari yang tak menderu
tiada sahara yang tak menggelegak
tiada pula rajawali garuda yang tak melayang tinggi menahan segenap hasratnya
mencericit akulah takjub cantik Muhammad, aakulah takjub cahaya Muhammad,  aakulah warna-warni Muhammad dan tiada pula nuri dan emprit yang tak berkicauan sendu menanti pertemuan denganmu duhai Muhammad

Mengingat segenap Mulia Muhammad
pastilah Tuhan kan bersalawat
tiada Malaikat yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersalawat
tiada mukmin yang tak bersyafaat
tiada pula pendosa yang tak bergetar takut menjerit
akulah tujuan kasih Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad, aakulah harapkan syafa’at Muhammad dan tiada pula pendoa yang tak bermajlis salawat hingga sekarat menanti kepastian syafa’atMu duhai Muhammad

Mengingat segenap Indah Muhammad
tiada Zulaikha yang tak ber-Yusuf
tiada Fathimah yang tak ber-‘Ali
tiada Layla yang tak ber-Majnun
tiada Romeo yang tak ber-Yulia
tiada pula kekasih dan pengantin yang tak berpasang-pasangan bercinta merintih
kamilah cahaya kasih Muhammad, kaamilah cahaya indah Muhammad, kaamilah bidadari cinta Muhamma dan tiada pula bidadari-bidadara  surga yang tak merindukan cahaya Indahmu, duhai Muhammad

Cantiknya Wujud : Keindahan Nan Maha Indah (1)

May 23rd, 2008 13 Comments »
sebagaimana padi adalah bukti bijibijian, pula kekupu adalah bukti kepompong
duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti e-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang
demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat
dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.

Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat
Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta
Pengingat -lah nan Diingat, dan nan dingingat -lah pengingat
Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba

Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.

Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina). Continue reading »

Semua bertasbih kepadaNya

May 23rd, 2008 No Comments »
  1. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepadaNya. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan PujianNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Asro’44).
  2. Moga Ia Ampuni segenap dosa di malam ini, jadikan esok lebih ceria dan bahagia … Moga pula ia bukakan tabir hingga hati ini seolah mendengarkan tasbih segala sesuatu padaNya. Amien Amien Amien

Logika Menentang Agama

March 23rd, 2008 32 Comments »

“Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”. Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan atau secara fuzzy ? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini fuzzy atau relatif?

Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mi\ungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.

Sebagai contoh perkataan ‘Ibn Taimiyyah di atas, jika misal pernyataan itu benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip non-kontradiksi salah . Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan sekaligus. Kalalu seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan itu sendiri “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” juga nafi. Tak bermakna. Tak perlu dipikirkan. Continue reading »

Antara Cinta, Iman dan Akal

December 26th, 2007 10 Comments »

Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya.

Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).

Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;

  1. Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.
  2. Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.

Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq(Cinta) dalam segala sesuatu. Continue reading »

Download

December 5th, 2007 3 Comments »

Al-Asma al-Husna

Cantiknya Wujud

Risalah Derita

Renungan

Manifestasi-Nya

Bukti Ketunggalan

Dzikir & Hud

Logika

Jamak Hingga Tunggal

Cengkrama Ceria Cinta

Kefaqiran Ruhani

Nihilo

Makrifatul Maad

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”

November 29th, 2007 5 Comments »

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?” Mulla Sadra mengutip ayat ini dalam prolog salah satu bukunya, dan kutipan ini menjelaskan suatu hal yang amat mendalam. Tuhan menyaksikan diriNya sendiri dalam seluruh manifestasi-manifestasinya, yang merupakan seluruh maujud yang memancar dari CahayaNya dan WujudNya yang Tiada Terhingga. Sedangkan filosof adalah saksi dari Yang Nyata, menjadi manifestasi penyaksian Tuhan yang sumbernya hanya bisa dalam Tuhan dan oleh karena itu mengamalkan penyaksian (syahadah) yang paling otentik. (Saduran dari Christian Jambet, “The Act of Being: The Philosophy of Revelation in Mulla Sadra”, Zone Books, New York, 2006)

Premis 1 Tidak ada yang lebih jelas dan meliputi ketimbang keberadaan.

Uraian : Segala yang ada tidak benar-benar ada sebelum memiliki keberadaan. Keberadaan merupakan “cahaya” yang menjelaskan kesangathakikatan segala sesuatu. Oleh karena itu niscaya keberadaan lebih jelas ketimbang semua yang dijelaskannya.

Premis 2 Tuhan adalah keberadaan mutlak yang tidak dibatasi oleh kekurangan apa pun.

Uraian : Tuhan adalah realitas keberadaan mutlak. Sumber dari semua keberadaan. Bila Tuhan bukan keberadaan mutlak tanpa batas, maka ada yang membatasi Tuhan. Maka sesuatu yang terbatas dan memiliki sifat-sifat ketidaksempurnaan bukanlah Tuhan. Oleh karena itu Tuhan adalah hakikat keberadaan mutlak tanpa batas.

Sebagai implikasi dari premis 1 dan premis 2 adalah : Tuhan (yakni keberadaan mutlak tanpa batas) adalah Yang Maha Jelas dan menjadi Penjelas bagi semua selainNya. Tuhan menjadi Saksi bagi DiriNya dan bagi semua selainNya. Maka jelaslah makna firmanNya : “Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”

(Wallahu a’lam bish-shawaab, to be continued)

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”