TAUHID Bukti (9n): Tentang Sifat-sifat KehidupanNya

Sifat-sifat KehidupanNya adalah sebagai berikut:

  • KehidupanNya adalah sebelum seluruh kehidupan selainNya. Hal ini adalah disebabkan tidak mungkin Ia sebagai Pelimpah (al-Mufīdh) segala kehidupan melimpahkan sesuatu yang tidak ia miliki pada semua. Dan sebagai yang melimpahkan keniscayaan kehidupan pada semua selain dirinya, Ia pasti prior (lebih dahulu) dari semua yang hidup selainNya.
  • Ia Hidup setelah semuanya berakhir kehidupannya. Karena semua selainNya kehidupannya tidaklah niscaya dengan dirinya sendiri dan masuk dalam siklus kehidupan dan kematian. Sedangkan KehidupanNya adalah Niscaya dengan DiriNya. Maha Suci Ia dari memasuki siklus kehidupan dan kematian! Berikut ini adalah kutipan dari doa shabah Amirul mukminin kw:

فَيَا مَنْ تَوَحَّدَ بِالْعِزِّ وَ الْبَقَاءِ

“Maka, wahai Yang Tunggal dengan kemuliaan dan keabadian,” [1]

  • Tiada yang memiliki kehidupan seperti KehidupanNya. Karena semua selain Ia kehidupannya tidaklah esensial dan kehidupannya bergantung pada sesuatu selain dirinya. Sedangkan KehidupanNya adalah Kehidupan Yang Hakiki pada derajatnya yang tertinggi, Kehidupan Yang Lebih Tinggi dan Lebih Mulia dari seluruh batas dan batasan apapun, yakni Kehidupan Murni yang tak tersentuh kematian apa pun.
  • Tiada yang berserikat denganNya dalam KehidupanNya. KehidupanNya hanya memiliki isytirak ma’nawi (kesamaan makna) dengan kehidupan-kehidupan selainNya dalam arti semua yang hidup berkesadaran dan beraktifitas. Namun KehidupanNya adalah “Hidup” Yang Sejati dan Niscaya Dengan DiriNya Sendiri. yang tidak mungkin dan tidak pernah mungkin dimiliki ( (dan bahasa filosofisnya) tidak pernah mungkin dipredikasikan) kepada selain DiriNya. Tiada apapun yang berserikat denganNya dalam KehidupanNya Yang Niscaya Dengan DiriNya Sendiri.
  • KehidupanNya tidak membutuhkan kehidupan yang lain. Hal ini adalah karena KehidupanNya tegak dan ada secara Niscaya dengan DiriNya Sendiri. Maha Suci Ia dari segala kebutuhan kepada selain dirinya! KehidupanNya tak lain adalah ketakhinggaan Kesempurnaan Kehidupan pada derajatNya yang Tertinggi sehingga mustahil membutuhkan kehidupan selain DiriNya Sendiri.
  • Kehidupan selainNya selalu masuk dalam siklus kehidupan-kematian (generation & corruption). KehidupanNya melimpahkan kehidupan pada yang mati, dan memasukkan segala yang hidup selainNya dalam siklus generation & corruption (kehidupan & kematian) dalam menuntun dan menggerakkan semesta mencapai kesempurnaan alamiahnya masing-masing. Berikut ini adalah salah satu ayat al-Qur’an:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [٢٩:٥٧]

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS 29 (AL-ANKABŪT):57)

Dan berikut ini adalah kutipan do’a setelah shalat:

…يُحْيِيْ وَ يُمِيْتُ ، وَيُمِيْتُ وَ يُحْيِيْ ، وَ هُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ ،

“Ia menghidupkan lalu mematikan, mematikan lalu menghidupkan. Dia Mahahidup yang tiada mati.” [2]

  • Dan Yang Maha Hidup melimpahkan kehidupan beserta faktor-faktor yang menunjang kehidupannya kepada semua selainNya (ar-Razzāq). Hal ini adalah karena Ia sebagai sumber eksistensi kehidupan selain diriNya adalah pasti adalah Pelimpah eksistensi faktor-faktor penyusun kehidupan selain diriNya. (Ia lah Yang memberikan rejeki pada semua yang hidup selain diriNya).
  • KehidupanNya adalah Kehidupan yang Paripurna; yakni, Kesadaran Sempurna dan Aktualitas Sempurna yang dengannya semesta tegak dan terpelihara, dan ini adalah sebagian makna al-Qayyūm .

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ …[٢:٢٥٥]

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS 2 (AL-BAQARAH):255)

Barangkali tujuh hal ini yang diisyaratkan juga dalam Doa Jausyan Kabir sebagai berikut:

يَا حَيًّا قَبْلَ كُلِّ حَيٍّ ، يَا حَيًّا بَعْدَ كُلِّ حَيٍّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ حَيٌّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ لَا يُشَارِكُهُ حَيٌّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ لَا يَحْتَاجَ مِنْ حَيٍّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ يُمِيْتُ كُلَّ حَيٍّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ يَرْزُقُ كُلّ َحَيٍّ ، يَا حَيًّا لَمْ يَرِثِ الْحَيَاةَ مِنْ حَيٍّ ، يَا حَيُّ الَّذِيْ يُحْيِي الْمَوْتٰى ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمَ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَ لَا نَوْمٌ

“Wahai Yang Hidup sebelum segala sesuatu yang hidup.

Wahai Yang Hidup setelah semua yang hidup.

Wahai Yang Hidup yang segala kehidupan tiada dapat menyerupaiNya.

Wahai Yang Maha Hidup yang tidak bersekutu denganNya kehidupan (selain KehidupanNya).

Wahai Yang Maha Hidup yang tidak butuh kepada yang hidup.

Wahai Yang Maha Hidup yang mematikan segala yang hidup.

Wahai Yang Maha Hidup yang memberi rezeki pada yang hidup.

Wahai Yang Maha Hidup yang tiada mewarisi hidup dari yang hidup.

Wahai Yang Maha Hidup yang menghidupkan segala yang mati.

Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Tegak/terus-menerus Mengurus/Maha Berdiri Sendiri, Yang tidak pernah mengantuk dan tidur.” [3]

[1] Mafatih Al-Jinan, Syekh Abbas Al-Qummi, Al-Huda, Jakarta, 2008,  pp. 212

[2] Mafatih Al-Jinan, Syekh Abbas al-Qummi, Al-Huda, Jakarta, 2008, pp. 87

[3] Doa Jausyan Kabīr, Ayat 70, Mafatih Al-Jinan, Syekh Abbas al-Qummi, Al-Huda, Jakarta, 2008, pp. 300