TAUHID Bukti (9q): Tentang Bahwa Dia adalah al-Haqq (Yang Mahabenar atau Yang Mahanyata)

“Kebenaran” adalah tentang eksistensi (sesuatu).  Lebih jelas lagi, keyakinan atau anggapan kita tentang sesuatu disebut benar bila ternyata sesuatu itu benar-benar ada . Jadi sesuatu disebut benar bila ia nyata dan benar-benar memiliki keberadaan. Sebagai contoh; “Ada lingkaran yang sekaligus segitiga” adalah tidak pernah mungkin ada di alam nyata, karena itu hal tersebut tidak benar. Contoh lain: “Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat” . Pergerakan matahari terbit di timur dan tenggelam di barat benar-benar ada dan nyata, dan sesuai dengan pengalaman yang kita alami sehari-hari. Maka berdasar eksistensinya yang benar-benar ada dalam kenyataan, adalah benar “Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat”.

Dari pemahaman tersebut, maka Wujud Wajib adalah Kebenaran Murni (haqqun mahdhun) yang tidak tercampuri kesalahan apa pun. Hal ini adalah karena keberadaannya benar-benar ada dan tidak memerlukan penopang apa pun agar ada. Sedangkan wujud-wujud mungkin (al wujudāt al imkaniyyah), kuiditas-kuiditasnya, tidak benar-benar nyata adanya. Lebih lanjut, dengan pemutusan hubungan mereka dengan Wujud Wajib, mereka menjadi tiada. Maka karena itu, mereka pada dirinya sendiri bāthil, dan benar atau nyata (haqq) hanya melaluiNya. Karena itu, …كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ…“Semua yang di bumi akan binasa kecuali WajahNya” (QS 28 (AL-QASHSHĀSH):88). Maka, Dia adalah yang paling layak disebut Benar, dan sungguh Dialah Yang Mahabenar (al-Haqq) lagi Mahanyata (al-Haqq), dan tiada kebenaran apa pun yang tegak kecuali melaluiNya !

…وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ [٢٤:٢٥]

“Dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar (Nyata), lagi Yang Menjelaskan” (QS 24 (AN-NŪR):25)

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ…[٣١:٣٠]

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Nyata (Benar) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil;” (QS 31 (LUQMAN):30)

Menurut Al-Fārābi: Kata-kata “benar / haqqun-حَقٌّ ” digunakan[1]

  • (1) untuk suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta obyektif, dan
  • (2) untuk suatu maujud yang ada dalam aktualitas, dan
  • (3) untuk suatu maujud yang kesirnaan tidak memiliki akses kepadanya

Dan Yang Mahaawal , yakni Wujud Wajib, adalah “benar / nyata / haqqun – حَقٌّ” dalam ketiga arti tersebut sekaligus. Lebih lanjut, ketika kita berkata bahwa Dia adalah (Maha)Benar / (Maha)Nyata (yakni, al Haqq) maknanya tidak lain adalah Dia adalah Wajib / Niscaya / Mesti sehingga kesirnaan apa pun tidak memiliki kekuatan atasNya dan Dia adalah yang dengannya segala sesuatu yang tersentuh kesirnaan menjadi benar-benar terwujud dalam realitas. “Sesungguhnya segala sesuatu kecuali Tuhan adalah tidak terlepas dari kesirnaan” (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إلَّا وَجْهَهُ “Semua yang di bumi akan binasa kecuali WajahNya” (QS 28:88))

[1] Paragraf ini disadur bebas dari Syarhe Manzhumehe Hikmat, karya Hajj Mulla Hadiy Sabzavary. Lihat The Metaphysics of Sabzavary, Translated by Mehdi Mohagheh and Toshihico Izutsu, Kamakura, 1975, pp. 46