Emanasi

December 11, 2009
By admin

Wujud  yang satu, tunggal dan tiada terbagi. Satu-nya bukanlah satu bilangan rasional. Bukan pula bilangan nyata. Satu-nya tidak memungkinkan untuk men-dua. Tidak mungkin pula diambil setengah-nya. Satu ahadiyyul-ma’na.

Wujud  yang Sempurna tiada terkata. Bahkan Ia -lah kesempurnaan itu sendiri. Kesempurnaan dari segala seginya. Yang tak dapat dipilah – pilah ke dalam fractal -fractal penyifatan manusia nan senantiasa terkurung oleh keterbatasannya yang esensial.  Kesempurnaan yang jika kita mengerti dari segi – seginya yang terpisah, akan meruntuhkan makna sejatinya.

Wujud  yang Luas tiada terbatas oleh apa-pun. Karena jika pun ada pembatasnya; pembatasnya tidak lain adalah ketiadaan mutlak yang bahkan tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh akal manusia. Luas dalam semua aspeknya. Mutlak dalam seluruh segi-nya.

Bagaimana mungkin Wujud  yang Tunggal, Sempurna dan Luas Tiada Berbatas ini menampakkan dirinya dalam mahiyyah – mahiyyah yang tersebar dalam alam kejamakan, tidak sempurna dan terbatas,  tak terhingga banyaknya tersebar dalam milyunan ruang, milyunan waktu dan milyunan alam ini ?

Rantai kausalitas yang mungkin adalah sebagai berikut. Wujud tunggal akan mengakibatkan sesuatu yang tunggal pula. Sesuatu yang tidak terbagi pula. Hanya sesuatu ini telah kehilangan sifat Sempurna dan Mutlak – nya. Karena minimal ia membutuhkan Sebab untuk meng – ada.

Kemudian  dari Wujud  dan sesuatu itu, terdapat tiga sesuatu yang mungkin menjadi sebab; (sesuatu itu sendiri), (Wujud, sesuatu tersebut) dan (sesuatu tersebut, Wujud) sehingga mungkin dihasilkan sebagai akibat tiga sesuatu yang lain. Tentu dua sesuatu yang terakhir sudah kehilangan sifat tunggal dan tiada terbaginya, maupun kesempurnaan dan kemutlakannya. Dua sesuatu ini telah memiliki sifat tidak sempurna maupun tidak mutlak (karena minimal memerlukan sebab untuk mengada), tersusun (karena sebabnya tersusun) dan relatif (karena sebabnya tersusun atas relasi antara dua sesuatu yang lain).

Kemudian dari lima sesuatu ini dapat diturunkan lagi dengan memperhatikan seluruh relasi sebab yang mungkin, dan seterusnya. Sehingga akhirnya, dari Wujud  yang Tunggal muncullah alam yang jamak ini.

Pandangan “kosmologi” seperti yang diuraikan di atas disebut sebagai teori emanasi. Tapi perlu dicatat, versi teori yang dituliskan ini tidak sama persis dengan teori emanasi menurut penemu aslinya, Ibnu Sina. Sengaja pula tidak diberikan “nama-nama” dari sesuatu – sesuatu tersebut, karena penamaannya sebenarnya tidaklah esensial dan bahkan dikhawatirkan membingungkan orang yang pertama kali mencoba memahaminya.

Beberapa sifat penting dari emanasi Wujud  diberikan sebagai berikut :
Emanasi Wujud  tidak tergantung waktu maupun ruang, bahkan ruang dan waktu-lah yang tergantung padanya. Jadi tidak dapat ditanyakan kapankah (atau dimanakah) emanasi terjadi? Atau bahkan dapat dikatakan pula setiap saat di setiap ruang apa pun atau pun di setiap sesuatu yang tak dapat diperikan oleh ruang dan waktu apa pun terjadi emanasi Wujud.

Semua sesuatu selain Wujud  dalam emanasi tidak memiliki Wujud  sejati. Karena menurut ashalah al-wujud Yang Nyata Wujud-Nya hanyalah Wujud. Dan mahiyyah hanyalah memiliki eksistensi “imajiner”.

Sehingga semua selain Wujud  hanyalah ada di alam mental. Karena itu tidak salah kalau semua selain Wujud  disebut Akal.Sehingga sesuatu yang pertama muncul dari Wujud  disebut sebagai Akal Pertama atau Akal Universal. Karena seluruh akal lain meniscayakan eksistensinya sebagai dalam rantai kausalitasnya.

Atau terkadang Akal Pertama juga disebut sebagai Nur Muhammad. Karena nuur inilah yang memungkinkan Wujud  menyatakan dirinya dalam selainnya di alam akal, sehingga secara reciprocal dapat dinyatakan nuur inilah yang memberikan “eksistensi mental pertama” , “pemahaman pertama”, Wujud atas dirinya sendiri.  Nuur inilah yang memungkinkan Wujud  menyatakan dirinya dalam selainnya di alam akal, sehingga secara reciprocal dapat dinyatakan nuur inilah yang memberikan “eksistensi mental pertama” , “pemahaman pertama”, Wujud atas dirinya sendiri.  Nuur inilah Kegemilangan Mata Air Wujud  dalam “memuji / memahami” dirinya sendiri.

Sehingga tak salah jika dikatakan seluruh-nya “dicipta” dari Nur Muhammad. Sebagaimana dipercayai oleh sebagian orang, bahwa yang pertama kali dicipta adalah Nur Muhammad, dan semua selain itu diciptakan lewat eksistensi Nur Muhammad.

Jelas tahapan Nur Muhammad tak terbatas ruang dan waktu. Karena ruang maupun waktu terbagi sedang Nur Muhammad tak terbagi.

Dan eksistensinya sebagai sebab niscaya pada se-gala selain Wujud. Rantai emanasi manapun pasti melewatinya.

Sehingga benarlah jika kita katakan bahwa “dalam” segala “terdapat” Wujud  maupun Nur Muhammad.  Walau harus dipahami tidak ada persatuan material apa pun.

Sehingga semoga mencukupi jika kita akhiri makalah ini dengan, Innallooha wa malaa`ikatahu yusholluuna ‘alan – nabiy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu sholluu ‘alaihi wasalimuu tasliimaa…..

wallahu a’lam

wallahu a’lam

15 Responses to “ Emanasi ”

  1. bang salam on December 22, 2009 at 3:43 pm

    makasih coretannya,.. kalau ada nyimpen file filsafat dari ibnu sina bagi dong,.. butuh… sampai saat ini aku memmahami wujud dari filafat yang tercatatat pada buku falsafatuna…

  2. rangga on February 4, 2010 at 8:07 am

    sungguh lemah logika anda,saya anak UIN logika anda banyak kelemahan sungguh banyak asumsi subjektif teramat dalam memahami nur muhammad tertolak anda dalam ilmu pengetahuan bila cara anda menafsirkan dengan kelemahan tanpa mengkoreksi eksistensi anda dengan benar

  3. rangga on February 4, 2010 at 8:09 am

    tuhan itu nur muhammad darimana anda tahu. asumsi tersebut sangat lemah sebaiknya anda cukup mengatakan sesungguhnya yang mengetahui hakikat nyata tuhan adalah tuhan sendiri karena anda bukan tuhan jadi jangan sembarangan atau jangan2 anda menuhankan pikiran anda sendiri sehingga menciptakan tuhan dengan pikiran anda, tafsir yang anda pelajari perlu dikaji ulang

  4. rangga on February 4, 2010 at 8:11 am

    tuhan tidak menciptakan sebab akibat padanya sebab dia adalah tuhan yang bebas mengekspresikan kemahatuhanan sedang makhluk terikat aturan penciptanya karena aturan itu ada pada tuhan bukan pada tafsir anda dalam menafsirkan tuhan anda sendiri

  5. rangga on February 4, 2010 at 8:16 am

    kita hanya bisa memahami ciptaan tuhan karena sederajat yakni sama2 makhluk, sementara tuhan bukanlah hamba,jadi anda tidak pantas menghakimi tuhan dengan kata2anda biarlah ia mengutus nabi atau rasul yang akan menerjemahkan ideaidea tuhan pahamilah tuhan melalui utusan,terlalu hina sampai tuhan turun tangan ke dunia, sementara ada ciptaan yang ia suruh untuk memperbaiki dunia ini, tuhan di atas tuhan yang ada yakni rasululloh dengan pemahaman sahabat dan pemahaman ulama yang akan menimbulkan berbagai tafsir sebagai konsekuensi berita langit yang jauh

  6. aw@m on March 9, 2010 at 12:28 am

    Penyakit ‘hati’ yang paling berbahaya adalah merasa dirinya paling benar dan paling suci serta paling tahu dibanding lawan diskusinya….”dia tidak tau bahwa dirinya tidak tahu”. Komentar ini rasanya agak ‘menyakitkan’, tapi ya itulah obatnya bagi tipe orang seperti itu.
    Bagi ikhwan/akhwat yg. merasa tidak mengerti bahkan mengusik pikirannya, tulisan ini tidak usah dikomentari karena dalam tataran berfikir ada tingkatanya, seperti halnya tingkatan ilmu pada umumnya dari tingkat dasar, menengah hingga ‘advance’ pada perguruan tinggi.
    Saya kira Pak Dimi ini membicarakan topik ini pada tingkat tinggi.
    Jadi, bisa dimaklum kan bagaimana jika seorang anak taman kanak-kanak mengomentari integral kalkulus …itu ibaratnya.
    Tapi kan, ini juga cuma pendapat saya jadi wajar kalau ada yang tidak setuju….

  7. H-lim on March 27, 2010 at 11:58 pm

    sangat tidak mungkin jika anda ingin merasionalkan dengan detail tentang TUHAN, karena keterbatasan akal anda yang diciptakan oleh-Nya.
    Tuhan adalah masalah keyakinan, jadi yakinkanlah hatimu bahwa Tuhan itu ada.

  8. muhammad on March 29, 2010 at 7:16 am

    sy butuh sekali buku2 literatur yg membahas masalah Emanasi khusus Ibnu Sina..
    kl ada literaturx, dgn kerendahan mhn dikrm via email ke
    awi_ikhlas71@yahoo.co.id..
    mksh atas sgl bntuannya..

  9. marbawi on April 9, 2010 at 1:36 pm

    beruntunglah bagi orang yang menguasai ilmu pengetahuan

  10. Supriady on April 15, 2010 at 2:36 pm

    Menarik pembahasan tentang teori Emanasi ini… saya ingin sebuah teori baru semacam konvergensi yang menggabungkan teori emanasi dengan teori lain… apa itu bisa..?

  11. rimba on May 3, 2010 at 4:10 am

    dik rangga…..
    belajar lagi ya

  12. haidar on May 7, 2010 at 2:34 pm

    syukron ustadz atas pencerahannya..

  13. Muchien on May 14, 2010 at 2:41 pm

    @H-lim;
    jika akal tidak bisa digunakan manusia untuk mencari kebenaran, lalu ntar pakai apa lagi???

    akal itu memang terbatas dan tidak selalu benar, tetapi juga TIDAK selalu salah… sah” saja kalau seseorang merasionalkan keberadaan Tuhan. Islam bukan agama taklid, tetapi agama keyakinan yang perlu dicari pendasaran dan hakikat ajaran” yang ada di dalamnya. Sejauh rasionalisasi tersebut tidak menyimpang dari makna dan inti dari ajaran tauhid, hal tersebut sah-sah saja. Seperti yang ditulis pada materi di atas, inti nya merupakan ‘pendekatan’ dan penjelasan atas
    keberadaan Tuhan dan manifestasi-Nya.
    Wallahu ‘alam bis shawab
    Syukron

  14. liyah nita on June 1, 2010 at 7:02 am

    Salam, pa Dimitri penjelasannya begitu logis. Saya sangat bersyukur sekali dapat membaca buah pemikiran antum!
    Mohon pancaran ilmunya..
    Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad

  15. jono on June 22, 2010 at 6:02 pm

    buat rangga, menurut Syekh Siti Jenar, dengan bersama-sama merenungkan kalimat berikut yang berbunyi : “Janganlah Anda mencela keyakinan/kepercayaan orang lain, sebab belum tentu kalau keyakinan/kepercayaan Anda itu yang benar sendiri”
    mari kita simak juga:
    http://www.karatonsurakarta.com/siti%20jenar.html

Leave a Reply

Arsip