TAUHID Bukti (9r) Tentang RahmatNya Meliputi segala sesuatu

Semesta adalah segala sesuatu selain Tuhan. Dengan kata lain, karena semesta bukanlah Wujud Wajib, ia adalah sesuatu yang tidak memiliki keberadaan mandiri. Oleh karena itu semesta tidak memiliki apapun dari dirinya sendiri yang menopang keberadaannya.

Pada saat yang sama, Tuhan adalah Kebaikan Murni (khayrun mahdhun), melalui limpahan kesempurnaan eksistensial dariNya semua semesta (al-‘ālamūn) yang menggapai-gapai dalam kesangatfakirannya menerima kesempurnaan yang hendak dicapainya.

Maka betapa mungkin Tuhan, yang tidak lain adalah Kebaikan Murni, melakukan apa pun selain menolong yang lemah dan faqir? Syaikh al-Akbar Muhyiddīn Ibn ‘Arabi menuliskan: “Maka seluruh makhluq adalah lemah dari dasar akan eksistensinya yang terdalam, maka Rahmat meliputi mereka”[1]

Dalam bagian lain Beliau menuliskan: “Semesta identik dengan Rahmat, dan bukan selain itu”[2]

Allah tabaroka wa ta’ālā berfirman:

…وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ…[٧:١٥٦]

“…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…”

(QS 7 (AL-A’RĀF):156)

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ …[٤٨:١٧]

“Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang dan atas orang yang sakit…” (QS 48 (AL-FATH):17)

Selain makna lahirnya, mungkin, sekali lagi mungkin, ayat ini mengisyaratkan makna batin, bahwa Tuhan yang tidak lain adalah Kebaikan Murni (khayrun mahdhun) amat lembut dan asih terhadap yang lemah dan yang cacat, Namun seluruh alam, karena mereka bukanlah Yang Nyata, bukan pula Mahasempurna; adalah lemah dan cacat. Oleh karena itu sungguh RahmatNya – yakni limpahan Kebaikan MurniNya- meliputi segala sesuatu!

Menurut asy-Syaikh al-Akbar, Ibn al-‘Arābī; ada suatu makna yang tersirat dalam FirmanNya

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]

ar Rahmān, di atas ‘Arsy (Ia) duduk” (QS 20 (TAA HAA):5)

Setiap raja memiliki singgasana. Allah sebagai Raja Yang Mahaagung memiliki Singgasana. KerajaanNya adalah segenap semesta langit dan bumi beserta seluruh alam. Ia duduk di atas SinggasanaNya sebagai Yang Mahapemurah atau Yang Mahamelimpahkanrahmat (ar-Rahmān) . Hal ini adalah karena rahmat Ilahiah – yakni limpahan dan pemberian kebaikan (khayrun), keindahan (jamālun) dan kebenaran (haqqun) – meliputi segenap alam .[3]

[1] Ibn ‘Arabi, al-Futūhat al-Makiyyah, Cairo, 1911, III 255.33, dikutip dari William C. Chittick, Ibn ‘Arabi Heir to the Prophets, Oneworld Publications, 2007, Oxford, pp.131

[2] Ibn ‘Arabi, al-Futūhat al-Makiyyah, Cairo, 1911, II 437.24, dikutip dari William C. Chittick, Ibn ‘Arabi Heir to the Prophets, Oneworld Publications, 2007, Oxford, pp.130

[3] Paragraf ini disadur bebas dari William C. Chittick, Ibn ‘Arabi Heir to the Prophets, Oneworld Publications, 2007, Oxford, pp.58-59.