TAUHID Bukti (9s): Tentang Bahwa sekalian alam tenggelam dalam Cinta padaNya

Apakah cinta? Setidaknya ada dua unsur yang ada dalam cinta;

  • keindahan yang diinginkan dan dirindukan;
  • dan bahwa keindahan yang dirindukan ini tidak benar-benar terwujud atau hadir dalam eksistensi pecinta.

Maka secara lebih ringkas dapat dikatakan bahwa cinta mengandung dua unsur; keindahan yang dirindukan, yang kedua adalah ketakterjangkauan atau non-presence objek yang dicintai dalam jangkauan pecinta.

Maka, benarlah bahwa Tuhan adalah al-Mahbub al-Haqīqī (Yang Dicintai/Kekasih Hakiki) segala sesuatu. Hal ini bisa dilihat dari;

  • bahwa Dia adalah jamālun mahdhun (Keindahan Murni), Yang Maha Indah Tiada Banding ;
  • dan bahwa Dia dalam Hakikat KeindahanNya Yang Terdalam tidak terjangkau dan tidak pernah tersentuh oleh apa pun.

Berapa besar intensitas kerinduan cinta segala sesuatu kepadaNya, Sang al-Mahbub al-Haqīqī (Kekasih Sejati)? Intensitas kerinduan segala semesta pada Kekasih Sejati adalah tak terukur dan tak terperi. Hal ini adalah karena intensitas kerinduan pecinta pada yang dicintai adalah sebanding dengan;

  • derajat Keindahan obyek yang dicinta;
  • derajat kebutuhan pecinta akan kehadiran obyek yang dicinta;
  • derajat ketakterjangkauan yang dicinta dalam benak pecinta.

Dari sudut pandang pertama (1), maka siapakah yang lebih indah dari Keindahan Murni Tanpa Batas, yakni al-Mahbub al-Haqīqī (Kekasih Sejati)?

Dari sudut pandang kedua (2), maka adakah yang lebih diharapkan dan dibutuhkan ketimbang Keindahan Murni dan Kebaikan Sempurna yang merupakan sumber segala kesempunaan eksistensial?

Dari sudut pandang ketiga (3), adalah sesuatu yang lebih tak terjangkau oleh pikiran, dan segenap indera lahir dan batin ketimbang Ia yang tidak terikat segala ruang dan segala waktu?

Maka jelas bahwa intensitas cinta Segala semesta pada al-Mahbub al-Haqīqī ada pada derajatnya yang tertinggi!

 

Maka adalah jalan alamiah fitri bagi kita semua untuk menyerahkan seluruh hati dan jiwa raga kita pada Kekasih Hakiki. Diriwayatkan dari Rasulullah saw.:

“Cintailah Allah dengan sepenuh hatimu”[1]

 

Dalam sebuah doa Imam ‘Ali Zainal ‘Ābidīn – as-Sajjād- ra. melantunkan

اَللّهُمَّ إِنِّيْ اَسْأَلُكَ أَنْ تَمْلَأَ قَلْبِيْ حُبًّا لَكَ…

“Yā Allah, aku bermohon pada-Mu untuk Kau penuhi kalbuku dengan cinta pada-Mu…”[2]

Imam Ja’far ash-Shādiq ra. dalam doa Beliau saat tiba Ramadhān melantunkan

صَلِّي عَلَى مُحَمَّد وَ اَلِ مُحَمَّد وَاشْغَلْ قَلْبِي بِعَظِيْمِ شَأْنِكَ وَاَرْسِلْ مَحَبَّتَكَ اِلَيْهِ حَتَّى اَلْقَاكَ

“Shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad dan sibukkan hatiku dengan keagungan ZatMu dan kirimkan kecintaan pada-Mu, sehingga aku berjumpa dengan-Mu.”

[1] Kanz al-Ummah 47:44, dikutip dari Syaikh Muhammad Mahdi al-Ashifi, Doa Suci Keluarga Nabi, Bandung, 2008 Pustaka Hidayah, pp. 191

[2] Bihar al-Anwar 98:89, dikutip dari Syaikh Muhammad Mahdi al-Ashifi, Doa Suci Keluarga Nabi, Bandung, 2008 Pustaka Hidayah, pp. 191