TAUHID Bukti (9t): Bahwa Ia Mencintai Sekalian Alam (al-‘alamīn) dengan Cinta Murni (hubbun mahdhun) yang terlepas dari semua kebutuhan cinta yang sentimental (min ghayri riqqatin)

CintaNya pada sekalian alam tidak lain adalah;

  • (1) kemahabaikanNya (khayruhu) untuk melimpahkan kesempurnaan kesempurnaan eksistensial yang terbaik dan terindah pada sekalian alam;
  • (2) namun pada saat yang sama, sifat dasar sekalian alam sebagai wujud-wujud mungkin (al-wujūdāt al-imkaniyyah) adalah kurang, cacat dan lemah; serta mereka tidak pernah mencapai kesempurnaan yang sebenarnya

Maka betapa mungkin bagi Tuhan, yang tidak lain adalah Kemahabaikan itu sendiri (al-khayr), melainkan Ia senantiasa menyempurnakan dan menambahkan kesempurnaan-kesempurnaan eksistensial pada sekalian alam yang selalu kurang, cacat, lemah dan faqir.

Dari sini, nampak bahwa Ia adalah Mahamencintai sekalian alam dalam arti Ia senantiasa melimpahkan kesempurnaan eksistensial yang lebih indah dan lebih indah lagi terus menerus pada sekalian alam tanpa henti. CintaNya memperbaharui kesempurnaan-kesempurnaan yang telah dilimpahkannya pada sekalian alam menjadi lebih indah dan lebih baik , setiap saat , setiap waktu. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Al Karim:

…كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ[٥٥:٢٩]

“Tiap hari Dia ada dalam kesibukan”

(QS 55 (AR-RAHMĀN):29)

 

Maka seluruh kosmos, baik makrokosmos maupun mikrokosmos, dipandang dari mereka adalah obyek CintaNya, selalu membaharu dan mencapai keindahan-keindahan yang lebih baru. Gerakan membaharu ini adalah dari level atom, bahkan subatomik atau yang lebih kecil lagi, hingga level supergalaxy, dan bahkan pada segenap semesta yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui. Sadrul Muta’allihin Mulla Shadra qs menyebut gerakan pembaharuan semesta terus menerus menuju kesempurnaan-kesempurnaan dan keindahan-keindahan ini sebagai harākah aljauhāriyyah – حَرَاكَة الْجَواهَرِيّة (gerakan substansial atau gerakan transubstansiasi).[1]

 

Bahwa Ia Mencintai hal-hal yang indah dan mencintai melihat jejak-jejak limpahan Keindahan dan KebaikanNya dalam semesta diisyaratkan oleh sebuah riwayat dari Amirul Mukminin Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw sebagai berikut

عن أبي عبد الله عليه السلام قال : قال أمير المؤمنين عليه السلام : ان الله الجميل يحب الجمال و يحب أن يرى أثر النعمة على عبده[2]

“Dari Abu Abdillah as. Beliau berkata: Amirul mukminin as. berkata: sesungguhnya Allah itu Indah (dan) mencintai yang indah, dan mencintai melihat jejak nikmat (Nya) atas hambaNya. “

 

Satu catatan penting adalah bahwa kata-kata “Cinta” yang dipredikasikan kepadaNya tidak sama dengan kata-kata “cinta” yang dipredikasikan kepada selainNya. “Cinta” yang dipredikasikan kepadaNya adalah “Cinta” yang bebas dari semua kebutuhan. Adalah “Cinta” yang tidak tersentuh rasa takut kehilangan. Adalah “Cinta” yang tidak tersentuh oleh sifat sentimental apa pun.  Mungkin sabda Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw dalam Nahjul Balāghah Khutbah ke 186 berikut ini mengisyaratkan pada sifat CintaNya yang suci dari segala kebutuhan akan yang dicintaNya

يُحِبُّ وَيَرْضَى مِنْ غَيْرِ رِقَّةٍ ،

“ (Dia) mencintai dan ridho namun tanpa ke-sentimental-an apa pun”[3]

Maha Suci Dia, hubbun mahdhun (Cinta Murni), al Habīb al Haqīqī (Pecinta Hakiki), yang CintaNya adalah benar-benar murni. Sungguh CintaNya adalah KemahabaikanNya (khayruhu) untuk melimpahkan sebaik-baik nikmat pada makhluq-makhluqNya.

Maha Suci Dia, sungguh CintaNya tak membutuhkan apa pun, tak mendambakan apa pun (min ghayri riqqatin), melainkan adalah kesempurnaan karuniaNya! Duhai Yang Mahabaik! Duhai Yang Mahaindah! Duhai Hakikat Murni Cinta!

Tentang Cinta MurniNya, seorang penyair berkata:

 

Gemilang bak mas murni dua puluh empat karat

Cerlang bak intan pualam mutu manikam

Yang Paling Murni dari  yang murni

Yang paling Sejati dari yang sejati

Memberi Murni tanpa meminta

Melimpahkan Nikmat tanpa berharap

Wahai Yang Sendiri dalam Keagungan dan Kekekalan!

[1] Mulla Shadra, Kearifan Puncak, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan II, Januari 2004, pp. 152

[2] Syekh Kulaini, Al-Kāfī, Vol. 6, دار الكتاب الاسلامية (Dār al-Kitāb al-Islāmiyyah), Tehran, 2000 M / 1367 H, Ahlulbayt Library 1. 0, pp. 438

[3] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 2,  pp.25