TAUHID : Bukti (10)

Rangka-nya rangka dari seluruh sains dan pengetahuan. Itulah prinsip kausalitas. Ketika Newton melihat apel jatuh, konon, ia berfikir mestinya ada sesuatu yang mewujudkan jatuhnya apel. Inilah yang meniscayakan adanya gravitasi dalam fisika. Ketika Mendell melihat keteraturan sifat-sifat hereditas, ia berfikir mestinya ada sesuatu yang mewujudkan keteraturan sifat-sifat hereditas. Keyakinan ini menumbuhkan teori genetika. Manusia secara instinktif memahami prinsip kausalitas sebagaimana yang telah dibahas secara elaboratif.

Dalam dunia yang kita persepsi disekitar kita, kita menemukan urutan sebab-sebab efisien, namun kita tidak pernah menemukan, dan tidak pula mungkin bahwa ada sesuatu yang merupakan sebab efisien dirinya sendiri. Jika hal seperti ini ada, maka sesuatu harus ada sebelum dirinya sendiri, yang merupakan hal yang mustahil. Namun adalah tidak mungkin deretan sebab efisien berderet terus ad infinitum. Karena dalam setiap urutan deretan sebab-sebab efisien, hal yang pertama adalah sebab dari hal berikutnya, dan ini pada gilirannya akan menjadi sebab dari hal terakhir (walaupun mungkin ada lebih dari satu tahap antaranya); dan jika satu dari sebab ini diambil; efeknya juga akan lenyap. Maka , bila tidak ada yang pertama dari deretan sebab-sebab efisien, tidak akan ada sebab-sebab antara dan efek akhirnya. Namun bila deretan sebab-sebab efisien membentang ke belakang ad infinitum, tidak akan ada sebab efisien pertama, yang akan berarti bahwa tidak akan ada akibat final, dan tidak ada sebab-sebab efisien antara, yang tentu bukan hal yang terjadi. Maka adalah mesti untuk menetapkan suatu Sebab Efisien Pertama; dan ini dipahami oleh setiap orang sebagai Tuhan. [1]

[1] Paragraf ini dikutip dan disadur dari Santo Thomas Aquinas, Summa Theologica, Book I, pp. 15