Prophethood for Teens, Bukti (3c): Mengapa yang diutus manusia? Bagaimana Karakter nabi? Mengapa diturunkan Kitab Suci?
- Dengan Tuhan mengutus manusia khusus untuk menyampaikan bimbinganNya dengan sempurna pada manusia; seorang manusia benar-benar harus memilih mengikuti jalan yang benar atau yang salah. Tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengikuti jalan kesempurnaan yang telah ditunjukkan oleh Yang Maha Pengasih (ar-Rahman)
- Bimbingan Ilahi berupa wahyu semestinya kebenarannya terang benderang dan tak terbantahkan. Bimbingan Ilahi semacam ini bisa terwujud melalui:
(a) Karakter suci nabi-nabi as. , baik komitmen mereka dalam menjalankan misinya apapun halangan dan tantangannya maupun sifat-sifat mulia lain seperti adil, jujur, amanah dll.
(b) Kemaksuman dan keterpeliharaan nabi-nabi as. dari semua kesalahan dan dosa. Seorang nabi harus terbebas dari sifat pelupa atau kelemahan-kelemahan mental yang lain, hingga dia dapat menyampaikan wahyu yang diterimanya tanpa ada kekeliruan. Jika tidak, maka bimbingan Ilahi tidak akan mencapai sasarannya, hukum Ilahi akan gagal memberikan bimbingan universal yang dimaksudkan, dan umat manusia tidak akan menerima hasil yang dikehendaki.
Seorang nabi juga harus bebas dari dosa baik dalam perkataan, perbuatan lahir maupun batin. Jika tidak, perbedaan perbuatan atau perkataan seorang nabi dengan bimbingan Ilahiah yang ia sampaikan akan berkontradiksi dan akan mengakibatkan orang tidak menghargai kata-katanya dalam ajaran-ajarannya.
(c) Argumen-argumen kebenaran yang dibawakan seorang nabi harus sangat kuat ditinjau dari seluruh level pemikiran dan pemahaman umatnya, baik yang paling awam hingga golongan cendekiawan/para pemikir. Kekuatan argumen ini perlu didukung oleh bukti adi-alami (baca pula: ayat atau mu’jizat) sehingga umat manusia mengenalinya bahwa tidak mungkin bukti-bukti tersebut terwujud kecuali dengan Limpahan Karunia Wujud Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui. Melalui kekuatan argumen yang dibawa para nabi ini, bimbingan Ilahi mengikat umat yang telah memahaminya dengan keharusan untuk mengikutinya. Bukankah adalah seharusnya seorang manusia yang sadar mengikuti jalan yang membawanya menuju kesempurnaan dan kebahagiaannya setelah ia menemukannya?
(d) Argumen dan bimbingan Ilahi menjadi lebih permanen nilai kebenarannya dan lebih langgeng serta lebih terpelihara apabila diturunkanNya dalam bentuk wacana/diskursus yang bisa diwariskan dan dikaji turun temurun dalam bentuk tulisan, tidak hanya melewati budaya lisan. Oleh karena itu, Dia Yang Mahatahu Mengajarkan pada manusia melewati al-Qalam(“Pena”/budaya tulisan). Dan oleh sebab itu, kenabian memerlukan pendamping sebagai syarat kesempurnaan bimbingan Ilahi, yakni diturunkannya Kitab-kitabNya bersama dengan para nabi
Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. bersabda [1]:

“Allah yang Mahasuci tak pernah membiarkan hambaNya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argumen yang mengikat atau dalil yang kuat. Para rasul itu tidak merasa kecil karena kecilnya jumlah mereka dan besarnya jumlah yang mendustainya. Di antara mereka ada pendahulu yang akan menyebutkan nama yang akan menyusul atau pengikut yang telah dikenalkan oleh pendahulunya.”
* * *
[1] Nahjul Bal?ghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1, Khutbah 1, pp. 31