Prophethood for Teens, Bukti (6) : Diutus manusia khusus untuk menegakkan hukum keadilan dariNya

March 1, 2010
By admin

Prophethood for Teens, Bukti (6) : Diutus manusia khusus untuk menegakkan hukum keadilan dariNya [1]

Keberlangsungan hidup manusia memerlukan interaksi dalam masyarakat. Interaksi manusia di dalam masyarakat memerlukan hukum dan keadilan. Bila tidak ada hukum dan keadilan maka masyarakat manusia akan rusak dan bahkan sirna. Hukum dan keadilan bagi manusia akan efektif bila,

  1. Ia sesuai dengan sifat-sifat alamiah manusia,
  2. Ia dilaksanakan oleh seorang manusia yang telah terlepas dari sifat-sifat rendahnya seperti hawa nafsu, seorang yang bebas dari kesalahan, dan memiliki pengetahuan dan kebijakan yang mendalam,
  3. Ia memiliki posisi di atas perbedaan-perbedaan opini individu manusia sehingga diakui dan diikuti.

Sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak mampu memahami sifat-sifat alamiahnya sendiri, dan kemudian menetapkan sistem hukum dan keadilan bagi kehidupannya sendiri di masya rakat. Kegagalan sistem komunisme dan kapitalisme dalam 2 abad terakhir ini adalah contoh kegagalan manusia menciptakan sistem sosial & hukum yang menjamin keberlangsungannya sendiri. [2]

Di sisi lain, hukum dan keadilan adalah paling afdhal (utama) bagi masyarakat manusia bila dibuat langsung oleh Pembuat manusia dan semesta. Hal ini adalah karena, seapakah yang lebih memahami dan mengetahui sifat-sifat alamiah manusia dan jalan manusia menuju kesempurnaannya lebih dari Pembuatnya (their Maker) ?

Ia Yang Mahabijak dan Mahabaik, tidaklah menghendaki bagi makhluknya kecuali yang terbaik dan paling sempurna. Oleh karena itu, tidak mungkin Ia tidak melimpahkan dan mengaruniakan sesuatu yang eksistensi manusia serta kesempurnaannya, tergantung pada hal tersebut, yakni hukum dan keadilan.

Untuk melengkapi NikmatNya dan memastikan efektifitas penerapan hukum Ilahiah ini sehingga manusia menjadi mengerti bagaimana hukum keadilan dariNya ini seharusnya ditegakkan maka Tuhan mengutus manusia khusus, yakni manusia yang telah terlepas dari sifat-sifat rendah seperti hawa nafsu, juga telah berlepas dari sifat-sifat kelemahan seperti lalai dan lupa, serta telah berhasil mengaktualisasi kedalaman ilmu dan kebijakannya, yakni para nabiNya.

bukti 6_1

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. ” (QS 57 (AL-HADID):25)

bukti 6_2

“…maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…. ” (QS 2 (AL-BAQARAH):213)

bukti 6_3

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ” (QS 4 (AN-NISA):65)

Pribadi seorang nabi demikian mulia dan sempurnanya sehingga manusia yang mengimaninya dengan sukarela mengikutinya, dan dengan ketulusan kepengikutan ini, manusia akhirnya mampu menegakkan dan menerapkan hukum dan keadilan Ilahiah. Sungguh, hanya melalui penegakan dan penerapan hukum Ilahiah ini masyarakat manusia menjadi sempurna, negeri mereka menjadi cerminan masyarakat surgawi, yang diliputi oleh limpahan AmpunanNya.

bukti 6_4

“… Negeri yang baik sedang Tuhan adalah Maha Pengampun. ” (QS 34 (SABA’):15)

* * *

[1] Bukti 6 bersumber dari argumen Ibnu Sina dari kitab Asy-Syifa (Metaphysics of Ibnu Sina), 2005, Brigham Young University Press, Provo, Utah, pp. 364-365

[2] Lihat misalnya: Muhammad Baqir  Shadr, “Manusia Masa Kini dan Problema Sosial”, Penerbit Pustaka Salman, Bandung, 1984




Leave a Reply

Arsip