TAUHID : BUKTI (5)

Bukti (5a) [1]

Kebutuhan dan kebergantungan fitri segenap makhluk dengan jelas  menunjukkan sangat perlunya eksistensi Wujud Mahamandiri, dan kefanaan segenap makhluk ini menunjukkan sangat perlunya eksistensi suatu realitas yang mandiri dan tidak berubah, realitas yang mendasar bagi mereka. [2]

Tentang universalitas kebutuhan dan kebergantungan fitri manusia ini akan Tuhan dan agama, Albert Einstein, fisikawan paling terkenal abad 20 mengatakan:

“Ada lagi agama dan akidah ketiga, bersemayam dalam setiap pikiran tanpa kecuali, meskipun takkan Anda jumpai keseragaman cara mengkhayalkannya sesuai dengan beragamnya imajinasi setiap orang. Aku menyebut akidah ini “perasaan keagamaan yang melekat pada wujud semesta”. Sulit bagiku menjelaskan perasaan ini bagi orang yang tidak memilikinya, apalagi pembahasan di sini bukan berkenaan dengan Tuhan itu yang tampak dalam berbagai bentuk itu. Akidah ini mengajarkan kepada manusia tentang remehnya harapan-harapan dan tujuan-tujuan manusia serta agungnya apa yang berada di balik semua maujud alamiah. Manusia akan merasa bahwa keberadaan dirinya adalah penjara dan ia ingin melepaskan dirinya dari penjara tubuhnya, untuk terbang meninggi menjumpai totalitas wujud ini secara serentak dengan hakikatnya yang satu. ” [3]

Sedangkan seorang filsuf dan ilmuwan Muslim kontemporer [4] menjelaskan:

“Berdasarkan pendapat ini, semua manusia, terutama orang-orang tertentu yang telah mencapai periode kedewasaan dan kemajuan, memiliki perasaan itu; yakni keinginan untuk melepaskan diri dari wujud terbatas mereka dan mencapai inti wujud. Pada diri manusia terdapat dorongan dan dambaan yang tidak akan menetap, tenang dan tenteram kecuali bila telah berhubungan dengan sumber wujud ini. Allah SWT serta hakikat suci inilah yang disebutkan dalam salah satu ayat Al Quran al Karim :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

[١٣:٢٨]

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS 13 (AR RA’DU):28)

 

Bukti (5b)

Salah satu cara praktis yang sederhana dan tidak rumit untuk menyadari KeberadaanNya adalah melewati kebutuhan fitri kita pada sesuatu yang absolut, dengan mengkondisikan pikiran kita pada saat-saat yang genting. Coba bayangkan kapal yang kita naiki hendak tenggelam, apa yang kita rasakan saat itu? Ketika sebagian kapal mulai tenggelam dan kematian sudah di depan mata. Dan ketika kita telah terapung-apung berpegang pada satu papan, di atas samudera luas. Pada saat itu jiwa kita secara otomatis akan mengarah pada Satu Kekuatan Absolut Yang Maha Baik, yang kita harapkan KebaikanNya, untuk menolong kita atau memberikan akhir yang baik pada kehidupan kita. Seorang penyair berkata:

وَ الْقَلْبُ يَعْرِفُهُ وَ يَرَاهُ

“Dan hati mengenalNya dan melihatNya”

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

[٢٩:٦٥]

“Dan apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian kepadaNya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka (kembali) mempersekutukan Allah.”

(QS 29 (AL-ANKABŪT):64)

 

[1] Cuplikan dan saduran dari Muhammad Husaini Beheshti, “Metafisika Al-Qur’an”, Arasy Mizan, 2003, hal. 45.
[2] Sebagai contoh kebutuhan fitri manusia akan makanan. Terlepas dari jenis khusus makanan yang diinginkannya dan aspek temporalnya yang berubah-ubah terhadap waktu, kebutuhan manusia akan makanan adalah kebutuhan fitri manusia. Dan memiliki aspeknya yang universal, yakni tidak bergantung ruang dan waktu, suku maupun bangsa.
Kebutuhan ini ternyata menunjukkan eksistensi dan realitas obyektif makanan. Makanan yang dibutuhkan manusia benar-benar ada dan benar-benar bermanfaat bagi manusia untuk mempertahankan kehidupannya dalam rangka meneruskan hidupnya menuju kesempurnaannya.
Ini juga berlaku untuk kebutuhan-kebutuhan fitri yang lain seperti kebutuhan akan teman, kebutuhan untuk hidup dalam komunitas masyarakat, kebutuhan akan pasangan hidup dan lain-lain. Juga kebutuhan akan hal-hal yang imaterial seperti kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan empati dan simpati.
William James seorang filosof dan ilmuwan terkemuka dari Amerika menyatakan: “Naluri-naluri manateriallah yang mengubungkan kita dengan alam material ini, demikian pula naluri-naluri spiritual menghubungkan kita dengan alam yang lainnya”
[3] Asy Syahid Murtadha Muthahhari, “Manusia dan Agama”, Mizan,Cetakan VIII, 1995, hal. 51-52.
[4] Asy Syahid Murtadha Muthahhari, “Manusia dan Agama”, Mizan,Cetakan VIII, 1995, hal. 52.