TAUHID : BUKTI (6)

Kehendak dan gerakan makhluk-makhluk hidup tidaklah muncul dari jasad mereka, melainkan dari ruh atau jiwa mereka. Jika ruh tersebut pergi, maka jasad akan mati dan tidak berfungsi lagi. Sebagai contoh, seandainya penglihatan dan pendengaran bisa dilakukan oleh mata dan telinga saja, tentunya kedua indera ini akan tetap berfungsi selama mereka ada (meskipun manusianya telah mati). Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Demikian pula, jika makhluk hidup itu tercipta atau bersumber dari makhluk hidup itu sendiri, tentunya makhluk-makhluk tersebut tidak akan pernah kehilangan wujud dan manifestasinya. Tetapi kita melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa kenyataannya tidaklah demikian. Makhluk-makhluk itu mati dan musnah satu demi satu. Mereka selalu berada dalam pergerakan dan perubahan. Mereka berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain.

Karena itu kita harus menyimpulkan bahwa semua wujud memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain, yaitu Pencipta mereka. Segera setelah batas waktu kemakhlukannya habis, wujud tersebut lenyap dalam ketiadaan.

Wujud yang wujud tidak-terbatasnya menopang alam semesta ini dan memelihara keterhubungan (kontinuitas) dan kelestarian semua makhluk yang ada di dalamnya, disebut Tuhan. Dia adalah wujud yang berada di luar jangkauan non-wujud. Kalau tidak demikian halnya, maka Dia adalah seperti wujud-wujud yang lain, yang wujudnya bergantung tidak pada diri mereka sendiri, tapi pada yang lain.

 

Disadur dari ‘Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabatha’I, “Inilah Islam”, Cetakan Kedua, Pustaka Hidayah, 1996, hal. 55.