TAUHID : BUKTI (8)

[1]

Seluruh semesta yang kita amati adalah dalam keadaan bergerak satu dengan yang lain.[2] Semua gerakan ini memerlukan penggerak (mover), tidak mungkin ada gerakan tanpa penggerak.[3] Jika setiap gerakan memerlukan penggerak, dan jika semua penggeraknya bergerak, maka memerlukan penggerak juga. Mustahil rantai gerakan-penggerak, gerakan-penggerak, gerakan-penggerak,…, ini tidak berujung. Karena bila tidak berujung akan berakibat nihilnya semua gerakan tersebut. Rantai ini harus bermula pada Penggerak Pertama, yakni penggerak yang tak bergerak (unmoved mover), sehingga tidak memerlukan penggerak lagi.[4]

Penggerak Pertama ini , yakni prime mover, adalah Tuhan ; karena seluruh semesta tidak lain adalah kumpulan sesuatu yang bergerak (baca pula; berefek) satu dengan yang lain. Maka Tuhan-lah sebagai Penggerak Pertama yang menjadi sumber seluruh gerakan/efek dalam semesta ini .

Allah berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

[٢٧:٨٨]

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.” )QS 27AN-NAML):88

Barangkali , Tuhan sebagai Sang Maha Penggerak Yang Tidak Bergerak ini yang diisyaratkan Amirul Mukminin Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw. dalam Nahjul Balāghah.

Dalam Khutbah Pertama[5], Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw. bersabda:

…فَاعِلٌ لَا بِمَعْنَى الْحَرَكَاتِ وَالْآلَةِ…

“…Dia adalah Pelaku namun tidak dengan makna gerak maupun alat…”

 

Perlu dicatat bahwa, Diamnya Penggerak Pertama adalah diam yang tidak memiliki kemungkinan sama sekali untuk bergerak. Ini berbeda dengan diamnya segala sesuatu dalam semesta material ini yang merupakan diam namun memiliki potensi untuk bergerak dan berubah.  Lebih tepat bila dikatakan Penggerak Pertama tidak tersentuh oleh gerak dan diam apa pun. Atau bahwa “diam” dan “gerak” tidaklah bisa dipredikasikan kepadaNya. Jadi Penggerak Pertama adalah unmovable mover, yakni Penggerak yang tidak memiliki potensi untuk bergerak sama sekali, sehingga lebih tepat dikatakan bahwa, “diam” dan “gerak” tidaklah relevan untuk dipredikasikan kepadaNya. Barangkali hal ini salah satu makna yang bisa kita pahami dari hikmah yang disampaikan Amirul Mukminin Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw dalam Khutbah 186 Nahjul Balāghah:

وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ السُّكُونُ وَالْحَرَكَةُ ، وَكَيْفَ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا هُوَ أَجْرَاهُ …

“Dan diam dan gerak tidaklah muncul atasNya. Dan betapa mungkin muncul atasNya sesuatu yang Ia (lah) yang memunculkannya[6]…”[7]

Dalam bagian yang lain khutbah yang sama, yakni Khutbah 186 Nahjul Balāghah, Beliau kw juga bersabda:

 

وَلَا يَتَغَيَّرُ بِحَالٍ ، وَلَا يَتَبَدَّلُ فِي الْأَحْوَالِ . وَلَا تُبْلِيهِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ ، وَلَا يُغَيِّرُهُ الضِّيَاءُ وَالظَّلَامُ.

Dan Dia tak berubah ke dalam suatu keadaan, dan Ia tidak berganti-ganti dari satu keadaan ke keadaan lain. Malam dan siang tidak membuatnya tua. Dan tak pula mengubahNya cahaya dan kegelapan.[8]

 

Lebih jauh akan coba di bahas beberapa Sifat-Sifat Penggerak Pertama.

Penggerak Pertama adalah Tunggal dan tidak tercampuri kejamakan apa pun. Apakah Penggerak Pertama ini mungkin lebih dari satu? Penggerak Pertama ini tidak mungkin lebih dari satu, karena bila ada lebih dari satu penggerak pertama, berarti penggerak pertama yang satu akan berefek terhadap penggerak pertama yang lain, karena ada berarti memberikan efek terhadap yang lain. Artinya, penggerak pertama yang satu akan bergerak terhadap penggerak pertama yang lain, sehingga penggerak pertama tersebut bergerak, berarti bukanlah penggerak yang tak bergerak alias bukan penggerak pertama. Dan jika semuanya bukan penggerak pertama , berarti semua gerakan (baca pula ; keberadaan) nihil.

Aristoteles dalam Physics, Book VIII menyatakan: “Penggerak Pertama harus sesuatu yang tunggal dan kekal. “Argumen berikut juga akan membuat terbukti bahwa Penggerak Pertama harus sesuatu yang tunggal dan kekal[9]”

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

[٢١:٢٢]

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah langit dan bumi telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang Mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS 21 (AL-ANBIYA):22)

Penggerak Pertama adalah aktualitas sempurna tanpa potensialitas, tidak pernah bergerak menyempurna lagi menjadi sesuatu selain dirinya yang lebih sempurna. Yakni Dia memiliki sifat:

al-Ghaniyyu – tidak memerlukan apa pun selain diriNya

Qā’imun bi nafsihi – berdiri dengan diriNya sendiri

Qā’imun bi dzātihi – berdiri dengan ZatNya sendiri

Aristoteles dalam Physics, Book VIII juga menyatakan: Penggerak Pertama tidak terbagi dan adalah tidak memiliki bagian-bagian dan tidak memiliki magnitude. “ Jelas, oleh karena itu, bahwa Penggerak Pertama tidak terbagi dan adalah tidak memiliki bagian-bagian dan tidak memiliki magnitude[10]” Ketidakterbagian Penggerak Pertama dapat dibuktikan dengan melihat bahwa semua hal yang terbagi (atau tersusun atas bagian-bagian yang lebih kecil) memiliki potentialitas, karena bagian yang satu mengaktuasi bagian yang lain, atau setidaknya seluruh bagian-bagian tersebut adalah potensial terhadap keseluruhan. Artinya bila Penggerak Pertama terbagi atau tersusun atas bagian-bagian maka ia bukanlah aktualitas tanpa potensialitas. Artinya Penggerak Pertama yang Tidak Bergerak ternyata setidaknya ditinjau dari satu sisi bergerak. Di sini terjadi kontradiksi. Artinya Penggerak pertama benar-benar tidak terbagi dan tidak tersusun atas bagian-bagian.

Perhatikan Sabda Amirul Mukminin ‘Ali bin Abī Thālib kw. dalam Nahjul Balāghah Khutbah Pertama[11]:

وَ مَنْ جَزَّأَهُ فَقَدْ جَهِلَهُ

“Dan barang siapa menganggapNya terbagi ia telah bodoh (tentangNya) (Penerjemah; ia telah meruntuhkan seluruh pondasi pengetahuan tentangNya)”

Mahasuci Sang Penggerak Pertama Yang Maha Baik. Penggerak Pertama adalah Maha Baik karena Ia melimpahkan pada semua jalan menuju kesempurnaan aktualitasnya: Pelimpahan kesempurnaan alamiah pada segala merupakan kebaikanNya, sungguh Dialah:

الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ

[٨٧:٢]

وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

[٨٧:٣]

“Yang menciptakan lalu menyempurnakan (ciptaanNya). Yang menentukan kadar dan memberi petunjuk”  

(QS 87 (AL-A’LAA):2-3)

Penggerak Pertama Maha Sempurna dari segala segiNya karena benar-benar tidak membutuhkan apa pun selain diriNya. Ia merupakan sumber seluruh kesempurnaan eksistensial, karena segala hal “berupaya” mencapai kesempurnaan “actuality”nya sendiri dalam setiap geraknya sedangkan sumber yang melimpahkan gerak/yang menggerakkannya adalah Ia sendiri.

Penggerak Pertama adalah Sang Maha Awal (al-Awwal), karena semua eksistensi dan gerakan eksistensial semestabermula dariNya.

 

Selanjutnya, ditinjau dari prinsip kesemasaan gerakan dan penggerak:

  1. Penggerak Pertama adalah yang ada di balik gerakan eksistensial semesta di setiap waktu dan semua tempat
  2. Tidak ada ruang dan waktu yang “kosong” dari Kehadiran AktifNya sebagai pemelihara (sustainer) dan Penuntun (al-Hādī) semua yang ada menuju kesempurnaan eksistensialnya. Amirul Mukminin ‘Ali bin Abī Thālib kw. bersabda dalam Nahjul Balāghah Khutbah Pertama[12]:

 

 

وَ مَنْ قَالَ ( (فِيمَ؟ )) فَقَدْ ضَمَّنَهُ ، وَ مَنْ قَالَ ( (عَلَامَ؟ )) فَقَدْ أَخْلَى مِنْهُ .  كَائِنٌ لَا عَنْ حَدَثٍ ، مَوْجُوْدٌ لَا عَنْ عَدَمٍ . مَعَ كُلِّ شَيْءٍ لَا بِمُقَارَنَةٍ ، وَ غَيْرُ كُلِّ شَيْءٍ لَا بِمُزَايَلَةٍ ، فَاعِلٌ لَا بِمَعْنَى الْحَرَكَاتِ وَالْآلَةِ

 

“Barangsiapa berkata di dalam apakah Ia maka ia telah mengatakan bahwa Dia dikandung sesuatu, barangsiapa berkata di atas apakah Ia maka ia telah mengosongkan sesuatu dariNya, Dia ada tanpa bermula dan maujud tanpa berasal dari ketiadaan, bersama segala sesuatu namun tidak dengan suatu kesertaan (kedekatan fisik), dan bukan segala sesuatu namun tidak dengan keterpisahan. Dia adalah Pelaku namun tidak dengan makna gerak dan alat. “

 

Ayat di bawah ini menggambarkan Kehadiran AktifNya dalam memelihara gerakan semesta menuju kesempurnaan eksistensialnya.

…كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

[٥٥:٢٩]

“Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan.”

(QS 55 (AR-RAHMĀN):29)

 

Tentang gerak universal dan Penggerak Pertama Yang Kekal , akan disadur pandangan Mulla Shadra berikut.

Adalah melalui gerak transubstantiasi universal yang Kekal dihubungkan dengan yang bermula dalam waktu. Karena kedirian alam ini adalah sedemikian sehingga ia diperbaharui dan hilang tanpa henti, bermula dan berakhir. Tidak terdapat sebab (baca pula; Penggerak) lain selain Tuhan untuk kebermulaan dan pembaharuan terus menerusnya, karena apa yang hakiki dalam sesuatu tidaklah disebabkan oleh apa pun namun hakikatnya sendiri. Dan Pembuat, ketika membuat ia membuat hakikat alam bergerak dan membaharu terus menerus. Pembaharuan atau gerak terus menerus ini tidak diakibatkan atau dipengaruhi apa pun (selain Tuhan, Sang Penggerak Pertama)[13].

Ayat di bawah ini menggambarkan bagaimana semesta senantiasa bergerak menjadi “ciptaan yang baru” dan Ia Yang Maha Pencipta Yang melimpahkan pada semesta gerakan eksistensialnya menjadi ciptaan yang lebih sempurna.

…بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ

[٥٠:١٥]

“Bahkan mereka ragu-ragu dalam hal penciptaan yang baru.” (QS 50 (QAF):15)

 

_________________________________________

[1] Bukti ini merupakan penyempurnaan bukti Aristoteles versi penulis
[2] Yang disebut gerakan di sini adalah gerakan dalam arti yang paling umum, bukan hanya gerakan dalam posisi. Sebagai contoh gerakan dari dingin menjadi panas, dari putih menjadi bening, dari kecil menjadi besar, dari banyak menjadi sedikit, dst. (Secara lebih umum lagi, bila sesuatu dirasakan efeknya oleh selainnya juga disebut “bergerak”)
Arti gerak adalah pembaharuan terus menerus keadaan (wujud) suatu benda. Dia juga berarti munculnya sesuatu dan perjalanan berangsur-angsur dari potensialitas ke aktualitas.
[3] Bila ada gerakan tanpa penggerak, maka bergerak dengan tidak bergerak menjadi identik. Dan ini mustahil.
[4] Tentang Penggerak Orisinal (Original Mover ini) seorang filsuf ( menjelaskan:
“ Adalah meyakinkan dan disetujui dengan dasar apa yang dikatakan oleh indera kita bahwa hal-hal di dunia ini bergerak. Namun apapun yang bergerak adalah digerakkan oleh sesuatu yang lain; karena tidak ada yang mengalami gerak kecuali dalam hal sejauh ia ada dalam keadaan potentiality terhadap apa yang ia tuju dalam geraknya. Sesuatu bergerak dalam makna aktif, di sisi lain, sejauh ia ada dalam actuality. Karena bergerak dalam hal ini adalah secara sederhana membawa sesuatu dari potentialitas ke aktualitas; namun tidak ada yang bisa dibawa ke aktualitas kecuali sesuatu yang dirinya sendiri dalam aktualitas. Sebagai contoh, sesuatu yang secara aktual panas, seperti api, membuat kayu, yang panas dalam potensialitas, panas dalam aktualitas, dan kemudian menggerakkan dan mengubahnya. Sekarang adalah tidak mungkin untuk satu hal yang sama menjadi, pada saat yang sama dan dari sudut tinjauan yang sama, secara sekaligus dalam aktualitas dan dalam potensialitas (karena apa yang secara aktual panas tidak bisa pada saat yang sama secara potensial panas, walaupun mungkin secara potensial dingin). Maka adalah mustahil bahwa (dari segi yang sama dan dalam cara yang sama) sesuatu sekaligus menjadi penggerak dan yang digerakkan, atau bahwa sesuatu menggerakkan dirinya sendiri. Maka apapun yang ada dalam gerakan adalah digerakkan oleh sesuatu yang lain. Dan jika sesuatu yang lain ini sendiri bergerak, ia harus pada gilirannya digerakkan oleh sesuatu yang lain, dan seterusnya. Namun rentetan ini tidak bisa bersambung ad infinitum, karena dalam hal ini tidak akan ada penggerak pertama, sehingga tidak ada yang menggerakkan yang lain, karena sesuatu yang bergerak tidak bergerak kecuali jika digerakkan oleh sebuah penggerak orisinal. Maka adalah mesti/perlu untuk sampai pada penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh hal yang lain; dan ini dipahami setiap orang sebagai Tuhan. ”
(Santo Thomas Aquinas, Summa Theologica, Book I, pp. 15)
[5] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1,  pp. 23
[6] Barangkali yang dimaksud adalah, “sesuatu yang Ia adalah sebab kemunculannya”
[7] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 2,  pp. 23
[8] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 2,  pp.25
[9] Aristotle, Physics, Book VIII, section 6. Rujuk pada Complete Aristotle, pp 608.
[10] Aristotle, Physics, Book VIII, section 10. Rujuk pada Complete Aristotle, pp 628.
[11] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1,  pp. 23
[12] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Vol. 1,  pp. 23
[13] Mulla Shadra, Kearifan Puncak, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan II, Januari 2004, pp. 152