TAUHID : BUKTI (9)

Semua konsepsi atau ide apa pun bila ditinjau dari eksistensi/keberadaannya pasti termasuk satu dari tiga kategori. Pertama, keberadaannya mesti atau niscaya (wajib/necessary). Kedua, keberadaannya mustahil (mumtani’/impossible). Ketiga, keberadaannya mungkin (mungkin/contingent), yakni tidak niscaya ada tidak pula mustahil. Yang pertama, keberadaannya adalah kemestian; dalam yang kedua, ketiadaannya adalah kemestian; sedang dalam yang ketiga, baik keberadaannya maupun ketiadaannya bukanlah kemestian.

Semua yang ada dalam semesta keberadaannya mesti atau mungkin. Tidak ada sesuatu yang keberadaannya mustahil ada dalam semesta. Sesuatu yang mustahil hanya ada dalam fikiran. Tidak memiliki realitas eksternal.

Sekarang mari kita  amati lebih lanjut bahwa, semua yang ada dalam semesta keberadaannya bila tidak wajib/mesti ya  mungkin/kontingen. Yang keberadaannya mungkin akan menjadi ada karena faktor eskternal. Bila faktor eksternal ini keberadaannya wajib, itu adalah Sumber dan Pencipta. Bila faktor eksternal itu keberadaannya juga mungkin, maka keberadaan faktor ini pasti ada karena sesuatu yang bukan dirinya. Jika rangkaian faktor yang keberadaannya mungkin ini membentang tidak terbatas tanpa mencapai titik mula, titik asal, dan eksistensi wajib, keberadaan-keberadaan mungkin tersebut, yang dalam rangkaian tidak terbatas ini, tidak akan memiliki realitas[1]. Aktualisasi mata rantai dalam rangkaian ini ditentukan oleh aktualisasi mata rantai sebelumnya. Jadi rantai ini harus berujung pada satu titik asal, yakni keberadaan yang mesti/wajib, yang mesti/wajib dengan diriNya sendiri dan tidak tengantung pada yang lain.

Pada satu Wujud/Keberadaan yang memiliki eksistensi mandiri atau eksistensi wajib inilah eksistensi berawal. Begitu eksistensi itu bergerak menuruni rangkaian sebab dan akibat, memberikan wujud dan realitas-realitasnya kepada setiap mata rantai. Oleh karena itu, segala sesuatu memperoleh eksistensi dalam “bayang-bayang” Wujud/Keberadaan tanpa syarat. Barangkali tentang Wujud Wajib yang sama sekali tidak tersentuh ketiadaan apa pun ini yang diisyaratkan oleh Imam Ali bin Abī Thālib kw:…سَبَقَ الْأَوُقَاتَ كَوْنٌهٌ ، وَ الْعَدَمَ وُجُودُهُ ، وَ الْاِبْتِدَاءَ أَزََلُهُ …, keberadaanNya mendahului segala waktu, WujudNya mendahului segala ketiadaan[2]. KekekalanNya mendahului semua kebermulaan[3].  Juga, dalam sabda Beliau yang lain ، وَ دَائِمٌ لَا بِأَمَدٍ ، وَ قَائِمٌ لَا بِعَمَدٍ … (Dia Kekal tanpa batas, Dia Berdiri (Ada) tanpa tiang. [4])

Setelah membuktikan eksistensi Pencipta, Ibn Sina selanjutnya membuktikan Ketunggalannya, Kemahakuasaannya, Sifat Tuhan Maha Mengetahui , dan sifat-sifat lain Pencipta dengan cara mengkaji masalah wujud mungkin dan wujud wajib. Kemudian Ibn Sina berkata :

“Perhatikan bagaimana bukti kami tentang eksistensi Sumber, Kesucian dan KesempurnaanNya, tidak membutuhkan perenungan lain kecuali perenungan tentang “eksistensi” itu sendiri dan tidak diperlukan adanya perenungan tentang makhluk-makhlukNya. “

Barangkali cuplikan khutbah Imam Ali bin Abī Thālib kw. di bawah ini mengisyaratkan bagaimana Wujud Wajib Yang Kekal dapat dibuktikan dari sifat mungkin wujud-wujud yang huduts (baru). Dan barangkali juga Beliau kw. mengisyaratkan beberapa sifat Tuhan sebagai Wujud Wajib yakni Tunggal tak terhitung, Kekal tanpa batas, Ada dengan DiriNya Sendiri.

 

…الدَّالِّ عَلَى قِدَمِهِ بِحُدُوثِ خَلْقِهِ ، وَ بِحُدُوثِ خَلْقِهِ عَلَى وُجُدِهِ ،…

“Dia membuktikan KekekalanNya dengan kebaruan ciptaanNya, dan dengan kebaruan ciptaanNya (Dia juga membuktikan) keberadaaNya.” [5]

Dalam bukti (9b) dan seterusnya, akan disajikan bagaimana memahami sebagian amat kecil percikan hikmah dari Samudera Keagungan Sifat-SifatNya melalui konsep Wujud Wajib. Maha Suci Ia dalam Keagungan Sifat-Sifatnya Yang Tak Terjangkau oleh pikiran para pemikir apapun!

[1] Misal, sebuah batu besar jatuh melintang di sebuah jalan sehingga memblokir jalan tersebut. Jelaslah bahwa batu itu tidak akan bergerak sendiri. Orang pertama yang mendapati jalan tersebut, terblokir. Orang tersebut berkata kepada dirinya sendiri, “ jika ada orang lain di sini, bersama-sama kami dapat menyingkirkan batu itu dari jalan sehingga jalan tersebut tidak terblokir. ” Orang kedua yang lewat dan mendengar saran orang pertama . Orang kedua ini menjawab bahwa jika ada lagi orang lain, kita bertiga akan dapat menyingkirkan batu itu. Orang ketiga yang lewat pun tiba di tempat itu. Namun, dia berkata bahwa jika ada orang keempat datang dan membantu, kita akan dapat menyingkirkan batu itu. Orang keempat pun datang dan menunggu kedatangan orang kelima, dan seterusnya sampai tak berujung. Apakah batu itu akan pernah tersingkirkan dalam keadaan seperti itu? Tentu saja tidak. Batu itu akan tersingkirkan hanya jika seseorang datang dan mau bertindak tanpa menunggu kedatangan orang lain. Dalam situasi seperti itu, dia, sendirian atau bersama-sama, harus bertindak menyingkirkan batu itu dan membuka kembali jalan.

Begitu pula dalam rangkaian sebab dan akibat, sepanjang kita tidak mencapai suatu sebab yang memiliki realitasnya sendiri, yang tidak bergantung pada yang lain, tidak ada mata rantai dalam rangkaian ini yang dapat memiliki realitas.

[2] Wujud yang mungkin adalah mungkin ada, dan mungkin tidak, dan hanya terwujud ke alam eksistensi setelah dilimpahi keberadaan oleh selain dirinya. Wajībul Wujūd (Wujud Wajib) sama sekali tidak tersentuh oleh ketiadaan apa pun, sehingga dikatakan WujudNya sedemikian Niscaya sedemikian rupa sehingga Keniscayaan KeberadaanNya mendahului segala ketiadaan. Di sini nampak bahwa makna mendahului bukanlah dalam arti waktu, namun dalam arti ontologis. Dan di sini nampak pula bahwa ketiadaan selalu relatif dan lenyap dalam Cahaya Keniscayaan Wujud Wajib.

[3] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 186, Vol. 2,  pp. 21

[4] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 185, Vol. 2,  pp. 15

[5] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 185, Vol. 2,  pp. 13