TAUHID Bukti (9b) : Tentang KesederhanaanNya, KesempurnaanNya, dan KetunggalanNya

Tentang kesederhanaanNya atau bahwa Ia tidak terbagi/tidak tersusun atas bagian-bagian bisa dilihat dengan jelas dengan mengamati bahwa sesuatu yang tersusun pasti membutuhkan bagian-bagian penyusunnya; sehingga jelas bahwa sesuatu yang tersusun pasti tidak Niscaya/Wajib dengan diriNya sendiri.

Tentang Ke (Maha)SempurnaanNya adalah bahwa Ia tidak membutuhkan apapun selain DiriNya Sendiri[1] dan bahwa semua kesempurnaan apa pun terwujud melaluiNya. Sungguh, Ia adalah sumber seluruh kesempurnaan eksistensial, oleh karena itu Ia adalah “Tujuan harapan orang-orang yang arif”[2]

يَا غَايَةَ آمَالِ الْعَارِفِيْنَ

Dan “Pamuncak dambaan sekalian Alam”[3]

يَا اِلَاهَ الْعَالَمِيْنَ

Sekalian alam menggapai kesempurnaan eksistensialnya dan mencapai kesempurnaan eksistensialnya tersebut melalui keniscayaan (necessity) yang dilimpahkanNya.

Tentang KetunggalanNya bisa dibuktikan melalui Kesederhanaannya. Bila Wujud Wajib tidak tunggal, maka antara Wujud Wajib satu dengan yang lain akan berbeda namun pada saat yang sama sama-sama memiliki sifat sebagai Maujud Wajib. Maka faktor yang membuat mereka berbeda satu sama lain pasti berbeda dengan apa yang sama-sama mereka miliki. Ini berimplikasi esensi mereka tersusun atas apa yang sama-sama mereka miliki dan apa yang membuat mereka berbeda satu sama lain. Ini berkontradiksi dengan kesederhanaanNya. Jadi Wujud Wajib Tunggal tanpa kejamakan apa pun.

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [١١٢:١]

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.”

(QS 112 (AL-IKHLĀS):1)

[1] Juga menjelaskan bahwa Dia adalah Al-Ghoniyyu (Yang Maha Kaya/Independen)

[2] The Supplication of Kumayl, Ansariyan Publications, Qum, pp. 30

[3] The Supplication of Kumayl, Ansariyan Publications, Qum, pp. 32