TAUHID Bukti (9c): Bahwa KetunggalanNya Bukanlah Ketunggalan Numerik

Ketunggalan Wujud Wajib tidaklah merupakan ketunggalan numerik, karena dua, tiga dan empat dan seterusnya sama sekali mustahil bagi Wujud Wajib. KetunggalanNya bukanlah merupakan ketunggalan partikular yang ditemukan pada suatu individu dari suatu hal yang alamiah; tidak juga merupakan ketunggalan generik atau spesifik yang ditemukan pada setiap gagasan umum atau setiap kuiditas. KetunggalanNya tidak juga merupakan ketunggalan konjungtif yang ditemui ketika sejumlah benda diatur atau disatukan menjadi sebuah hal yang tunggal; tidak juga merupakan ketunggalan hubungan yang ditemukan dalam kuantitas-kuantitas dan hal-hal yang terukur. Tidak juga, merupakan ketunggalan-ketunggalan relatif yang lain. Tidak, KetunggalanNya bukanlah (ketunggalan-ketunggalan relatif ini), tidak diketahui dalam intinya yang paling hakiki, sebagaimana ZatNya –Maha Mulia Ia- kecuali bahwa KetunggalanNya adalah Sumber seluruh ketunggalan-ketunggalan (lain ini), sebagaimana wujudNya adalah Sumber seluruh wujud-wujud (partikular). Maka: Tidak ada yang kedua bagiNya. [1]

Barangkali inilah yang diisyaratkan oleh Sayyidina Ali bin Abī Thālib kw. di beberapa khutbahnya dalam Nahjul Balāghah:

…؛ اَلْأَحَدُ لَا بِتَعْوِيْلِ عَدَدٍ ،…

“Dia adalah Satu, tapi bukan dalam arti jumlah.” [2]

…وَاحِدٌ لَا بِعَدَدٍ ،…

“Dia adalah Satu, tetapi bukan dengan jumlah.” [3]

…لَا يُشْمَلُ بِحَدٍّ ، وَ لَا يُحْسَبُ بِعَدٍّ…

“Dia tidak dibatasi oleh batasan-batasan, Dia tidak dihitung oleh angka-angka.” [4]

…كُلُّ مُسَمًّى بِالْوَحْدَةِ غَيْرَهُ قَلِيْلٌ…

“Segala sesuatu yang disebut satu selain Dia adalah sedikit.”[5]

Sesuatu menjadi sedikit (dalam jumlah) apabila ada jumlah lain yang lebih banyak menjadi pembandingnya. Satu buah apel menjadi sedikit karena lebih dari satu apel mungkin terjadi. Satu lembar kertas menjadi sedikit karena lebih dari satu kertas mungkin terjadi. Sedangkan Wujud Wajib tidak ada pembanding untuk menjadikan Satu Wujud Wajib adalah sedikit. Oleh karena itu, Wujud Wajib adalah Satu yang tidak sedikit. Sedangkan segala sesuatu selain Dia pasti memiliki kesamaan atau bisa dibandingkan dengan yang lain, setidaknya sebagai wujud yang mungkin (al-wujūdāt al-imkāniyyah). Imam Ali bin Abī Thālib kw. bersabda: …وَ بِاشْتِبَاهِهِمْ عَلَى أَنْ لَا شَبَهَ لَهُ (dan dengan kemiripan mereka (ciptaan-ciptaanNya) membuktikan bahwa tidak ada yang mirip denganNya) . Sehingga satu bagi selainNya adalah sedikit. Logika yang sama bisa digunakan untuk membuktikan bahwa ketunggalanNya bukanlah ketunggalan numerik.

Bahwa Ia memiliki Ketunggalan Hakiki yang benar-benar tidak terbagi dengan cara apa pun, dan tidak terbandingkan dengan semua jenis ketunggalan lain, namun di sisi lain Ia adalah sumber kesempurnaan eksistensial semesta, merupakan kunci pengetahuan atas sifat-sifat KesucianNya. Dia-lah Yang Maha, Lebih Tinggi dari semua apa pun yang disifatkan padaNya (Al-‘Aliyy).

Dialah pula Yang Maha Suci (Al-Quddūs), tiada pandangan apa pun yang mampu menyentuhNya, tiada imajinasi apa pun yang mampu membayangkan KeagunganNya, tiada pikiran manapun yang mampu menyelami hakikatNya. Imam Ali kw. bersabda dalam salah satu khutbahnya[6]:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا يَبْلُغُ مِدْحَتَهُ الْقَائِلُونَ ، وَ لَا يُحْصِي نَعْمَاءَهُ الْعَادُّونَ . وَ لَا يُؤَدِّي حَقَّهُ الْمُجْتَهِدُونَ ، الَّذِي لَا يُدْرِكُهُ بُعْدُ الْهِمَمِ . وَ لَا يَنَالُهُ غَوْصُ الْفِطَنِ ….

“Segala puji bagi Allah yang tiada pembicara mana pun mampu meliputi segala pujian bagiNya. Tiada penghitung mana pun mampu mencakup bilangan nikmat karuniaNya. Tiada daya-upaya bagaimanapun mampu memenuhi kewajiban pengabdian kepadaNya. Tiada pikiran sejauh apa pun mampu mencapaiNya, dan tiada kearifan apa pun mampu menyelami hakikatNya…. “

[1] Mulla Shadra, Kearifan Puncak, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan II, Januari 2004, pp. 127-128

[2] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 152, Vol. 1, pp. 555

[3] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 185, Vol. 2,  pp. 15

[4] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 186, Vol. 2,  pp. 21-23

[5] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 65, Vol. 1,  pp. 251

[6] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 1, Vol. 1, pp. 21