TAUHID BUKTI (9e) : Bahwa Sifat-SifatNya bukanlah sesuatu selain ZatNya

KesederhanaanNya mengimplikasikan bahwa Sifat-SifatNya bukanlah sesuatu selain Zatnya, yakni Wujud Wajib itu sendiri, Karena bila Sifat-SifatNya adalah tambahan bagi ZatNya, Ia menjadi tersusun. Maha Suci Ia dari segala kejamakan dan ketersusunan!

Hakikat KetunggalanNya adalah ZatNya itu sendiri dan bukanlah selain itu. Hakikat kesempurnaanNya adalah ZatNya itu sendiri. Demikian pula KehidupanNya, PengetahuanNya dan sifat-sifatNya yang lain.

Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw. bersabda[1]:

…وَ كَمَالُ تَوْحِيْدِهِ الْإِخْلَاصُ لَهُ ، وَ كَمَالُ الْإِخْلَاصِ لَهُ نَفْيُ الصِّفَاتِ عَنْهُ . لِشَهَادَةِ كُلِّ صِفَةٍ أَنَّهَا غَيْرَ الْمَوْصُوْفِ , وَ شَهَادَةِ كُلِّ مَوْصُوْفٍ أَنَّهَا غَيْرَ الصِّفَةِ …

“…Dan kesempurnaan tauhidNya adalah ikhlas kepadaNya, Dan kesempurnaan ikhlas kepadaNya adalah penafian sifat atasNya.  Dengan penyaksian bahwa setiap sifat bukanlah yang disifati, dan bahwa setiap yang disifati bukanlah sifat…”

Shadr al Muta’allihīn Mulla Shadra qs. Menuliskan

“Sifat-SifatNya – Maha Suci Ia – identik dengan Zat Nya. Ini tidak sebagaimana Asy’ariyyah meletakkannya, dari penegakan kejamakan Sifat dalam wujud untuk mengimplikasikan kejamakan delapan (Sifat) koeternal (yang terpisah dari Zat Tuhan). Tidak juga itu seperti ungkapan kaum Mu’tazilah, yang secara total menolak realitas konseptual yang berbeda-beda dari Sifat-Sifat, tapi kemudian menegaskan efek-efek mereka dan menggantikan Zat sebagai pengganti mereka (dalam menghasilkan efek-efek ini) sebagaimana dalam Suber Wujud di sisi sebagian. Maha Tinggi Ia dari penihilan (ta’thil) dan antrophomorfisma (tasybih).

Tidak, ( ketunggalan Sifat-Sifat Tuhan dan Zat Tuhan hanya dapat dipahami dengan benar) dalam cara yang diketahui oleh الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ar-rāsikhūna fi al-‘ilmi (orang-orang yang mendalam ilmunya) (QS 3 (AL-ALI IMRAN):7) dari أُمَّةً وَسَطًا  ummatan wasathan (QS 2 (AL-BAQARAH):143), yakni mereka yang tidak dikalahkan baik oleh kelebihan maupun kekurangan. ”[2]

Syaraf ad-dīn Dāwwūd Al-Qaysarī menuliskan:

“Jika Anda mengetahui hal ini, maka Anda akan mengetahui apa yang dimaksudkan dengan “Sifat-SifatNya identik dengan ZatNya”…Pikiran mempersepsi sebagai berbeda, sebagaimana ia (pikiran) secara mental memisahkan sifat dan pemilik sifat, walaupun dalam keberadaan aktualnya satu”[3]

Maka, Maha Suci Ia Yang Samudera Keagungan Sifat-SifatNya adalah Hakikat Ketunggalan ZatNya. Dan Sifat-SifatNya tidak terlepas dari dan bukanlah sesuatu selain ZatNya. Maha Suci Ia Yang Mahatunggal namun tidak sedikit. Yang Mahatunggal namun Maha Meliputi.

[1] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 1, Vol. 1, pp. 23

[2] Mulla Shadra, Kearifan Puncak, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan II, Januari 2004, pp. 134

[3] Qaysari’s Muqddima to His Sharh Fusūs al-hikam, Translated by Mukhtar Hussain Ali (Ph. D. dissertation), University of California, Berkeley, 2007, pp. 37