TAUHID BUKTI (9f) : Tentang Ia sebagai al-Mufīdh (Sumber Emanasi Semesta) dan an-Nūr

Seluruh wujud mungkin (al-wujūdāt al-imkaniyyah) adalah bersifat faqir/membutuhkan dalam dirinya sendiri, dan tergantung. Mereka ada melalui sesuatu selain diri mereka sendiri. Jalinan rantai kebergantungan ini kembali kepada Wujud Wajib Yang Suci dan Maha Tinggi.

Ini menunjukkan bahwa Wujud Wajib Yang Maha Terpuji adalah sumber emanasi (Al-Mufīdh) segala selainNya. Dengan cara yang sama Ia adalah sumber keberadaan mereka, Ia juga adalah sumber seluruh sifat-sifat kesempurnaan (dan kebaikan serta keindahan) yang ada melalui mereka.

Dengan mengamati bahwa Pelimpahan (Ifādhah) Keniscayaan dariNya adalah meliputi semesta maka hal ini menunjukkan KehadiranNya di seluruh ruang waktu. Amirul Mukminin Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw. bersabda[1]:

ما رايت شيئا الا ورايت الله قبله وبعده ومعه

“Tidaklah kulihat sesuatu kecuali kulihat Allah sebelumnya, sesudahnya, dan bersamanya. “

Demikian pula al-Qur’an menyatakan KehadiranNya di seluruh ruang waktu:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [٢:١١٥]

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 2 (AL-BAQARAH):115)

…أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ [٤١:٥٤]

“…Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS 41 (FUSHSHILAT):54)

Dengan mengamati bahwa cahaya adalah sesuatu yang nampak (baca pula:eksis) dengan dirinya sendiri dan menampakkan (baca pula:melimpahkan keberadaan) yang lain, maka Wujud Wajib sebagai al-Mufīdh; adalah cahaya langit dan bumi!

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ …[٢٤:٣٥]

“Allah cahaya langit dan bumi.” (QS 24 (AN-NŪR):35)

Segala sesuatu diterangi oleh cahayaNya. Segala sesuatu telah muncul akibat cahayaNya. kemunculan ini adalah pantulan dari cahayaNya. Kemunculan manusia adalah juga sebuah cahaya. Maka dari itu manusia itu sendiri adalah sebuah cahaya. Binatang-binatang juga merupakan cahaya keagunganNya. Keberadaan (eksistensi) langit dan bumi adalah sebuah cahaya dari Allah. [2]

Tentang Dia sebagai Cahaya dari segala cahaya, Suhrawardi menuliskan dalam Hikmah al-Isyraq:

“ (Jika) Sebuah cahaya imaterial faqir (membutuhkan) dalam quiditasnya, maka kebutuhannya tidaklah ditujukan pada substansi-substansi gelap yang mati (al-ghāsiq al-mayyit), yang tidaklah layak (mungkin) memberikan eksistensi dari sisi manapun kepada yang lebih mulia dan lebih sempurna darinya. Bagaimana mungkin yang gelap melimpahkan/mengemanasikan cahaya?

Maka dari itu, walaupun cahaya imaterial (an-nūr al-mujarrad) membutuhkan cahaya yang tegak (nūrun qā’imun) dalam realisasi/aktualisasinya, maka rantai cahaya-cahaya yang tegak ini tidak akan terus berlanjut ad infinitium/tak hingga karena telah Anda ketahui dari demontstrasi (al-burhān) bahwa adalah mesti bagi sekuen/barisan (penyadur:pelimpah eksistensi) seperti ini untuk berujung pada satu ujung dan tidak tanpa ujung. Oleh karena itu, cahaya-cahaya yang tegak dan cahaya-cahaya aksidental, dan batas-batas (al-barāzikh)nya, dan keadaan-keadaan mereka harus berakhir pada suatu cahaya yang setelah cahaya tersebut tiada cahaya apa pun!

Cahaya ini adalah Cahaya dari Segala Cahaya, Cahaya Yang Maha Meliputi (an-Nūr al-Muhīth), Cahaya Yang Maha Berdiri Sendiri (an-Nūr al-Qayyūm), Cahaya Yang Maha Suci (an-Nūr al-Muqaddas), Cahaya Teragung Yang Tertinggi (an-Nūr al-A’zham al-A’lā), dan Cahaya ini adalah Cahaya Yang Maha Menguasai (yakni an-Nūr al-Qahhār). Dia (yakni Cahaya ini) tidak membutuhkan apapun selain DiriNya secara mutlak (al-ghaniyy al-muthlaq), karena tiada apa pun yang melampauinya. Keberadaan dua cahaya imaterial yang independen satu sama lain (ghaniyaini) tidak bisa dibayangkan ! (Penyadur: ini adalah bukti Ketunggalan Nūr al-Anwār (Cahaya dari segala cahaya))

Dia adalah Cahaya dari segala cahaya. Segala selain Ia faqir (membutuhkan) terhadapNya dan memiliki keberadaan dariNya. Dia tidak memiliki pembanding tak pula yang serupa dengannya! Maha Menguasai segala sesuatu dan tiada apapun yang menguasaiNya maupun menentangNya karena seluruh kekuatan, daya dan kesempurnaan terlimpah dariNya. ”[3]

Maka bagaimanakah sifat Kehadiran EmanatifNya sebagai cahaya segala ruang dan waktu? Dalam uraian berikut akan dijelaskan bahwa KehadiranNya adalah bukan kehadiran yang pasif namun adalah Kehadiran Yang Hidup dengan taraf Keaktifan & Pemeliharaan yang tertinggi.

[1] Asy-Syaikh Ja’far As-Subhānī, العقيدة الاسلامية على ضوع مدرسة اهل البيت (عليه السلام) , مؤسسة الصادق عليه السلام, Qum, 1998, Ahlulbayt Library 1.0,  pp. 137

[2] Imam Sayyid Ruhullah Al Musawi Khumaini qs,  dalam buku Light Within Me, Islamic Seminary Pakistan, pp. 126-127.

[3] Disadur dari,  Suhrawardi, حكمة الاشراق (The Philosophy of Illumination), 1999, Brigham Young University Press, Provo, Utah, pp. 87,88