TAUHID Bukti (9g): Tentang PengetahuanNya

Dengan kata lain, segala sesuatu ada dengan derajat keberadaan yang tertinggi pada dan melalui Hakikat WujudNya dan PengetahuanNya. Dan merekalah kunci-kunci kegaiban yang hanya diketahui olehNya! Maha Suci Ia Yang Maha Tahu!

“Telah disebutkan bahwa Zat Yang Maha Tinggi adalah Wujud mutlak yang tidak dibatasi batasan apa pun, tidak pula kosong dari wujud atau kesempurnaan eksistensial apapun. Maka semua rincian penciptaan, baik wujud maupun kesempurnaan eksistensial, dengan tatanan eksistensialnya ada di dalamNya dalam bentuknya yang paling tinggi dan paling luhur tanpa terpisah satu sama lain. Maka Dia MengetahuiNya dengan Pengetahuan yang tidak terbedakan, yang pada saat yang sama membuka rincian-rincian (‘ilman ijmaliyyan fi ‘ayn al-kasyf al-tafshīli)[2]

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ [٦:٥٩]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS 6 (AL-AN’AAM):59)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ [٥٩:٢٢] هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ [٥٩:٢٣] هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [٥٩:٢٤]

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 59 (AL-HASYR):22-24)

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [٣١:٢٧]

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 31 (LUQMAN):27)

Shadr al Muta’allihin Mulla Shadra menuliskan:

“PengetahuanNya tentang segala sesuatu merupakan Realitas yang Tunggal. Tapi pada saat PengetahuanNya tersebut Tunggal, ia juga merupakan pengetahuan tentang tiap hal; Ia tidak meninggalkan apa pun yang kecil atau besar, namun Ia mencatat semuanya (QS 18;49) [3]. Karena jika terdapat sesuatu yang tidak ada ilmuNya tentang sesuatu itu, maka Itu bukanlah Realitas Pengetahuan, namun pengetahuan di suatu sisi dan kejahilan di sisi lain……Karena kita telah menunjukkan bahwa PengetahuanNya sesungguhnya kembali kepada WujudNya…. Oleh karena itu ZatNya benar-benar pada hal-hal tersebut lebih intens dibanding mereka dalam diri mereka sendiri. Karena dengan dirinya sendiri sesuatu itu adalah mungkin, namun bersama dengan Yang Membuatnya dan Yang memberinya realitas, sesuatu tersebut mesti mengada – keberadaan sesuatu tersebut lebih intens daripada kemungkinannya. ”[4]

Bahwa pengetahuan bagi selainNya diperoleh dengan “mencarinya”, dan bahwa PengetahuanNya adalah ZatNya dan tidak diperoleh dengan mencarinya namun Hadir dalam Puncak KesempurnaanNya, barangkali hal ini yang diisyaratkan oleh Imam ‘Ali bin Abī Thālib kw:

كُلُّ عَالِمٍ غَيْرَهُ مُتَعَلِّمٌ

“Semua yang mengetahui selainNya adalah pencari pengetahuan.” [5]

[1] Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’I, Bidāyat al-Hikmah (English Version: The Elements of Islamic Metaphysics), Translated and Annotated by Sayyid ‘Ali Quli Qara’I, ICAS Press, 2003, London, pp. 130 & 117

[2] Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’I, Bidāyat al-Hikmah (English Version: The Elements of Islamic Metaphysics), Translated and Annotated by Sayyid ‘Ali Quli Qara’I, ICAS Press, 2003, London, pp. 140

[3] وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا [١٨:٤٩]

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhan-mu tidak menganiaya seorang jua pun. ” (QS 18 (AL-KAHFI):49)

 

[4] Mulla Shadra, Kearifan Puncak, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan II, Januari 2004, pp. 135

[5] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 65, Vol. 1, pp. 251