TAUHID Bukti (9h): Bahwa Dia Maha Berkehendak dan KehendakNya adalah Yang Terbaik

KehendakNya (Irādah) adalah PengetahuanNya akan tatanan terbaik semesta. Dengan kata lain kehendakNya adalah PengetahuanNya bahwa suatu perbuatan tertentu adalah baik. Dengan pengertian ini, sifat KehendakNya (irādah) terbukti dengan sendirinya sebagai satu segi PengetahuanNya.  Ini adalah sisi dzātiyah KehendakNya.

Penting untuk dicatat bahwa dari sisi lain, yaitu dari sisi yang berhubungan dengan kemunculan sesuatu dalam semesta, KehendakNya adalah sifat fi’liyahNya (sifat perbuatanNya).  Dari sisi ini, jelas bahwa pengetahuanNya mendahului kehendakNya. Hal ini diungkapkan dalam riwayat berikut.

محمّد بن أبي عبد الله ، عن محمّد بن إسماعيل ، عن الحسين بن الحسن ، عن بكر بن صالح ، عن عليّ بن أسباط ، عن الحسن بن الجَهم ، عن بكير بن أعين قال : قلت لأبي عبد الله عليه السلام : علم الله و مشيئته هما مختلفان أو متفقان ؟ فقال : العلم ليس هو المشيئة ألا ترى أنّك تقول : سأفعل كذا إن شاء الله و لا تقول : سأفعل كذا إن علم الله فقولك إن شاء الله دليل على أنّه لم يشأ فإذا شاء كان الّذي شاء كما شاء و علم الله السابق للمشيئة

“Dari Muhammad bin Abi Abdillah, dari Muhammad bin Isma’il, dari al-Husayn bin al-Hasan, dari Bakr bin Salih, dari Ali bin Asbat, dari al-Hasan bin al-Jahm, dari Bukayr bin A’yan, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdillah (as. ), “Apakah pengetahuan dan kehendak Allah berbeda atau sama?” Beliau menjawab, “PengetahuanNya bukanlah KehendakNya. Tidakkah kau lihat bahwa kamu berkata ‘jika Allah menghendaki, saya akan lakukan ini. ’ Dan bukan, ‘jika Allah mengetahui, saya akan melakukan ini. ’ Perkataanmu ‘jika Allah menghendaki’ adalah bukti bahwa Allah belum menghendakinya. Maka, jika Ia menghendaki apa yang Ia kehendaki, itu terjadi persis seperti Ia kehendaki. Dan PengetahuanNya mendahului kehendakNya.”” [1]

[1] Ash-Shaykh Abū Ja’far Muhammad Ibn Ya’qūb ibn Is’hāq al-Kulaynī ar-Rāzi, Al-KĀFĪ, WOFIS, Tehran, Vol. 1, Part 1, pp. 274