Bukti (9k): Tentang PendengaranNya dan PenglihatanNya, serta Kelembutan PengetahuanNya

Kemudian dengan mengamati bahwa pendengaran adalah pemahaman tentang hal-hal yang terdengar (audible), jelaslah bahwa Ia adalah Maha Mendengar (as-Samī’). Kemudian dengan mengamati bahwa penglihatan adalah pemahaman tentang hal-hal yang terlihat (visible), jelaslah bahwa Ia adalah Maha Melihat (al-Bashīr). Dan Sungguh PengetahuanNya meliputi segala hal yang lembut dan terlembut (al-Lathīf) dan tiada zarrah sekecil apapun yang terlepas dari Medan Kehadiran Kesadaran EksistensialNya (al-Khobīr).

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ [٣١:١٦]

“ (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS 31 (LUQMAN):16)

…ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ [٣١:٢٨]

“… Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 31 (LUQMAN):28)

Tentang Kesempurnaan PendengaranNya dan PenglihatanNya, Imam ‘Ali kw bersabda dalam Nahjul Balāghah (khutbah 65):

…وَ كُلُّ سَمِيعٍ غَيْرَهُ يَصَمُّ عَنْ لَطِيْفِ الْأَصْوَاتِ ، وَ يُصِمُّهُ كَبِيرُهَا ، وَ يَذْهَبُ عَنْهُ مَا بَعُدَ مِنْهَا ، وَ كُلُّ بَصِيرٍ غَيْرَهُ يَعْمَى عَنْ خَفِيِّ الْأَلْوَانِ وَ لَطِيفِ الْأَجْسَامِ…

“Semua yang mendengar selainNya tuli terhadap suara-suara yang lembut, dan suara-suara keras membuatnya tuli, dan suara-suara yang jauh pergi darinya. Dan semua yang melihat selainNya buta terhadap warna-warna tersembunyi dan benda-benda yang halus.” [1]

[1] Nahjul Balāghah, Ansariyan Publications, Qum, 2002 M/1423 H, Khutbah 65, Vol. 1, pp. 251