Logika Menentang Agama

“Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”.

Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan atau secara fuzzy ? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini fuzzy atau relatif?

Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya.

Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.

Sebagai contoh perkataan ‘Ibn Taimiyyah di atas, jika misal pernyataan itu benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip non-kontradiksi salah . Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan sekaligus. Kalalu seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan itu sendiri “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” juga nafi. Tak bermakna. Tak perlu dipikirkan.

Menerima kebenaran pernyataan beliau tersebut sama saja dengan mengkafirkan beliau. Karena jika peenyataan tersebut benar, maka untuk membenarkannya telah digunakan kaidah logika. Dan karena beliau telah menggunakan kaidah logika, menurut pernyataan-nya sendiri beliau kafir. Jadi sebaiknya pernyataan pengkafiran orang yang menggunakan logika ini benar-benar ditolak. Pernyataan ini salah. Salah. Dan mustahil benar. Karena kalau benar, semua orang yang berfikir benar kafir. Dan ini mustahil.

“Wa qul jaa ‘al-haqqa wazahaaqal-baathil, innal-baathila kaana zahuuqa.” Dalam pandangan saya, Islam jelas menentang adanya relativisme Kebenaran. Dalam Islam yang benar pasti benar dan tidak mungkin salah. Sedang yang salah pasti salah dan tak mungkin benar. Dalam dunia dikenali adanya golongan relativis kebenaran yang disebut sufastaiyyah. Golongan relativis kebenaran ini merupakan pewaris mazhab pemikiran sophisme, yang bermula pada abad ke-5 dan ke-4 SM di Yunani melalui pemikiran Protagoras, Hippias, Prodicus, Giorgias dan lain-lain.

Beberapa pemikiran yang mendasari gelombang filsafat pasca-modernis juga merupakan cerminan dari pandangan golongan ini. Dalam majalah Ummat No.3/Thn.I/7 Agustus 1995, hal 76, DR.Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa Akidah Islam jelas menentang keras sikap golongan sufastaiyyah ini. Bagi golongan sufastaiyyah, benar itu bisa salah dan salah itu bisa benar. Bagi golongan shopisme Yunsni, semua yang jelas-jelas ada ini dianggap tidak memiliki keberadaan. Jadi ada dan tiada sama saja. Bagi golongan positivis pasca- Renaisance, semua yang tidak bisa diukur tidak bisa ditentukan benar salahnya. Bagi pengikut Marx dan Hegel, kontradiksibukan saja mungkin terjadi, tapi menjadi arah gerakan alam yang sering disebut sebagai dialektika Hegel. Bagi golongan relativis pasca-modern, yang mendasarkan pemiokirannya pada language games ala Wittgenstein ataupun Russel seyiap propisisi adalah bahasa, dan setiap bahasa nilai kebenarannya relatif, karena itu setiap keberanan itu relatif.

Adapun sufastaiyyah, misalnya sama. Menghancurkan kaidah dasar logoka. Yaitu prinsip non-kontradiksi. Hanya Protagoras meniadakannya dalam tingkatan ada-tidaknya segala sesuatu, para positivis meniadakannya pada tingkatan hal yang tidak bisa diindra, Marx dan Hegel meniadaknnya sebagai watak umum segala yang maujud, dan Wittgenstein maupun Russel menghilangkan otoritas fikiran untuk menerapkan kaidahnaya kepada alam di luar fikiran. Hasilnya sama. Runtuhnya seluruh bangunan pengetahuan manusia. Runtuhnya suatu bangunan keyakinan manusia. Bahkan keyakinan tentang adanya dirinya sendiri ! Na’uudzubihi min dzaalik.

Penerapan kaidah-kaidah berfikir yang benar telah menghantarkan para filosof besar pada keyakinan yang pasti akan keberadaan Tuhan. Socraets dengan The Most Beauty -nya. Plato dengan archetype -nya. Aristoteles dengan prime-mover-nya.. ‘Ibn Arabi dengan al-jam’u bainal-‘addaad (coincindentia in oppositorium) nya. Suhrawardi dengan Nur-i-qahir nya. Mulla Shadra dan Mulla Hadi Sabzavary dengan Al-Wujud Al-Muthlaq-nya. Jelas-jelas penerapan logika bagi mereka tidak menentang agama. Malah sebaliknya, me-real-kan agama sampai ke seluruh pori-pori rohaninya yang mingkin. Atau dengan kata lain, mencapai hakikat. Dalam dialog terakhir Socrates, digambarkan betapa figur filsuf ini mati tersenyum setelah menyebut nama Tuhan sebelum akhir hayatnya.

Tentang Aristoteles, sebuah riwayat menyatakan bahwa ia adalah seorang nabi yang didustakan ummatnya. Tentang ‘Ibn ‘Arabi, tidak ada yang menyangsingkan sebagai salah seorang sufi terbesar sepanjang sejarah dengan tak terhitung pengalaman ruhani yang tertulis di kurang lebih 700 kitabnya. Sedang Mulla Shadra , tujuh kali haji ke Mekkah dengan berjalan dari Qum (Iran) hanya untuk memenuhi panggilan kekasih-Nya. Alih-alih logika menentang agama, malah logika adalah kendaraan super-executive untuk mencapai hakikat. Dan sekali lagi alih-alih logika menentang agama , tanpa logika agama tak-kan dapat terpahami. Jadi apakah logika menentang agama?

wallahu a’lam

Comments

  1. icank says:

    saya kagum dg ibn taimiyah. Bagaimanapun beliau salah seorang tokoh filsuf islam terkemuka. Sumbangsih pemikirannya sangat nyata kita rasakan hingga saat ini. Semoga Allah senantiasa meridhainya. Kita disini dg kekinian kita saat ini tentu dg pemahaman kita sendiri dan kekinian kita sendiri. Usaha untuk memahami jalan pikiran seoran ibn taimiyah dg kacamata kekinian mustahil akan menghasilkan kesimpulan yg benar2 valid. Apa yg terucap tentu dilatarbelakangi situasi saat itu.dan tdk ada seorangpun manusia yg bisa menggaransi originalitas informasi tentang seorang ibn taimiyah kpd kita sampai sekarang ini.maka kurang bijak jika kita serta merta menggambarkan ibn taimiyah dgn sgl kekurangannya dan mencapnya secara negatif.

  2. noorfalah says:

    qta sebagai manusia tidak boleh memandang selalu sisi negatif seseorang,,,,ibnu taimiyah seorang filosof yang hebat,,,,,,
    (anak tuhan)

  3. bahar says:

    Assalam.
    Pak, saya minta izin untuk mendownload artikel-artikel Bapak.
    Wassalam…

  4. Ijotomat says:

    Orang baru tidak percaya logika,ketika melihat sesuatu yang tidak bisa dilogikakan. Misal;bisakah dilogikakan kenapa angin tidak bisa dilihat mata?Kenapa burung berbeda warna bulunya?Dan banyak lagi hal diluar logika kita.Kenapa harus melogikan keyakinan?Sedang hal nyatapun kadang diluar logika kita..

  5. seneng diskusi says:

    dan perumpamaan – perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya melainkan orang – orang yang berilmu.

    Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah sesuatu tanda (kekuasaaan Allah) bagi orang-orang mukmin.

    QS. Al Ankabuut 43 – 44

  6. AL IKHWAN says:

    saya berpendapat, bahwa akal adalah untuk yang pertama melangkan memilih mana yang positif dan sebaliknya. nah apabila akal sudah menerima yang positif, barulah hati menerimanya dengan ikhlas.

  7. MIE: ST I says:

    Yups. mungkin saat itu Ibn Taimiyah tidak sampai kepada pemikiran akhuna icank dan vice versa.

  8. MIE: ST I says:

    afwan ralat akhuna icank. maksud saya akhuna admin.

  9. MIE: ST I says:

    “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” (Ibn Taimiyyah), bisa mohon dijelaskan makna “kafir” yang dimaksudnya. Karena ada macam-macam kafir.

  10. MIE: ST I says:

    fazandaqa = kafir zindiq?

  11. ?????????????????? says:

    Bagaimanapun hebatnya seseorang pasti mempunyai kekurangan, karena statusnya sebagai manusia, itu yang meniscayakan kekurangannya… namun dalam masalah ini (Pemikiran Ibnu Taymiyah dalam masalah logika) mungkin perlu di jelaskan dan dikaji lebih lusa lagi, tidak hanya mwngkaji statement yang menyatakan >>>>>>>>>
    “Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”…… kemudian berhenti sampai disitu dan mengambil kesimpulan sendiri tentang pemikiaran Ibnu Taymiyah tentang LOGIKA…
    Saya rasa Ibnu T juga tidak mungkin sepicik itu dalam mengartikan penggunaan LOGIKA,
    jadi paling tidak yang perlu kita kaji,
    Apa yang melatarbelakangi Ibnu T sehingga mengeluarkan statement seperti itu..?
    Bagaimana situasi sosio-kultural-politis saat Ibnu T mengeluarkan statement itu..?
    Bagaimana Pendapat-pendapat Ibnu T dalam karyanya yan lain…
    Dan sebagainya…
    sehingga dengan pengkajian yang lebih komprehensif seperti itu kita tidak terjebak pada kerancuan asumsi terhadap seseorang, apalagi kita tau Ibnu Taimiah merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman umat tentang Agama Islam…
    Kalau pembacaan yang mentah seperti di atas, kita bukannya mendiskusikan pemikiran Ibnu T tentang Logika tapi mendiskusikan pemahaman ADMIN tentang Ibnu taimiah yang notabnenenya mengambil kesimpualan yang sangat mentah…
    demikian Wallahua’lam bisshowab..

  12. zulkarnain says:

    Bagaimanapun hebatnya seseorang pasti mempunyai kekurangan, karena statusnya sebagai manusia, itu yang meniscayakan kekurangannya… namun dalam masalah ini (Pemikiran Ibnu Taymiyah dalam masalah logika) mungkin perlu di jelaskan dan dikaji lebih luas lagi, tidak hanya mengkaji statement yang menyatakan >>>>>>>>>
    “Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”…… kemudian berhenti sampai disitu dan mengambil kesimpulan sendiri tentang pemikiaran Ibnu Taymiyah tentang LOGIKA…
    Saya rasa Ibnu T juga tidak mungkin sepicik itu dalam mengartikan penggunaan LOGIKA,
    jadi paling tidak yang perlu kita kaji,
    Apa yang melatarbelakangi Ibnu T sehingga mengeluarkan statement seperti itu..?
    Bagaimana situasi sosio-kultural-politis saat Ibnu T mengeluarkan statement itu..?
    Bagaimana Pendapat-pendapat Ibnu T dalam karyanya yan lain…
    Dan sebagainya…
    sehingga dengan pengkajian yang lebih komprehensif seperti itu kita tidak terjebak pada kerancuan asumsi terhadap seseorang, apalagi kita tau Ibnu Taimiah merupakan ulama besar yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman umat tentang Agama Islam…
    Kalau pembacaan yang mentah seperti di atas, kita bukannya mendiskusikan pemikiran Ibnu T tentang Logika tapi mendiskusikan pemahaman ADMIN tentang Ibnu taimiah yang notabnenenya mengambil kesimpualan yang sangat mentah…
    demikian Wallahua’lam bisshowab..

  13. paul says:

    mungkin saja ibnu taymiyyah lupa kalau di dalam islam itu ada yang dinamakan dalil dan dalil itu ada 2:yaitu dalil aqli dan dalil naqli.jadi wajar aja dia ga tau.

  14. Asep says:

    Yg sy fahami, Mungkin pernyataan tersebut untuk wilayah – wilayah yang harus diimani yang tidak mungkin dilogikan ” saat itu “. Contoh Seperti ” pertanyaan Bagaimanakah Wajah Allah ? “. Pada tingkat logika , bisa meyakini bahwa ” Tuhan itu ada “, ketika sudah yakin, pertanyaan dimana, seperti apakah wajah Tuhan maka masuk wilayah yang harus diimani yaitu mengimani apa yang disampaikan dalam kitab suci ( contoh : Al – Quran ).

  15. darno says:

    ibn taiminyak itulah yang kafir !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  16. malique says:

    tidaklah mungkin seorang ulama’
    tidaklah mungkin seorang pemikir besar tidak mengetahui hal-hal mendasar,

  17. s says:

    ibn taimiyah adalah orang hebat, mungkin beliau skrg sedang di syurga..

  18. moslem says:

    eehh darnok” hati2 klo bicara, yang kau cela itu seorng ulama..bkn orang sembarang

  19. GREENLIGHT says:

    Dari sisi epistemologi dalam pembentukkan paradigma utk keyakinan ataupun kebenaran, memang akan lebih lengkap bila didasari 4 hal, yaitu : pancaindra, logika, kebersihan hati, dan sejarah. jadi pandangan Ibnu Taimiyyah bisa dikatakan memenuhi, jika memang maksudnya dalam sisi epistemologinya kita hanya gunakan semata-mata logika untuk mencapai keyakinan atau kebenaran.

    Perlu kita kaji dulu pokok pikiran Ibnu Taimiyyah secara lebih lengkap sehingga kita bisa memahami apakah maksud Ibnu Taimiyyah dengan kalimat “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”

    wallahu a’lam

  20. khilaf says:

    janganlah terllalu mempertentangkan sesuatu yang belum kamu tau pasti kebenarannya, akan tetapi marilah kita memikirkan darimana sumber bacaan tersbut.

  21. Hamba Allah says:

    Kami setuju dengan prnyataan jika dijabarkan bahwa pernyataan Ibn Taimiyyah itu adalah logika berfikir, nmun untuk mengatakan bahwa logika berfkir Ibn Taimiyyah adalah kafir, itu salah. Yg hrus qt fahami dari sbuah pernyataan tersebut bahwa tidak semua fase bisa ditembus dengan logika. Maka pernyataan Ibn Taimiyyah benarlah adanya jika ada suatu fase tak perlu untuk dilogikakan ‘n’ tetap berusaha untuk bermain logika, maka….!!! telah tergolong kafir.

  22. awaxbadan says:

    sip broo..
    cukup wat bahan bacaan n referensi.
    thx n mg sukses

  23. Ridho Muhammad says:

    Orang yang menyatakan keimanannya pada Tuhan nya tanpa penelusuran logis menuju hakekat imannya sendiri, maka mereka adalah orang malas yang hanya mampu mengcopy paste pikirai-pikiran orang sebelumnya.

    Mantap tulisan mu, bro. Sangat mendasar.
    Muhammad Abduh pernah bilang “Aku melihat Muslim di timur tanpa kehadiran Islam”
    Ridho Muhammad bilang “Aku melihat dominasi Muslim di Indoensia tanpa kehadiran Islam, karena muslim di Indonesia malas-malas dan lebih senang membudayakan korupsi” Ichank, Noorfalah, Zulkarnain dengan komentar di atas adalah contoh orang2 merugi di Indonesia.
    Semoga mereka mau banyak belajar lagi.

  24. iam says:

    saya sugguh kagum kepada bapak

  25. iwan says:

    seluruh ulama menyandarkan pengetahuannya pada Al Qur’an dan Hadits namun kemudian melahirkan kesimpulan yang berbeda. Selama ini ada hal mendasar yang luput dari perhatian kita yaitu tentang pola gerak Al Qur’an dan Hadits.
    Para ulama selama ini hanya melakukan gerak sa’i dan belum melakukan gerak thawaf. Gerak sa’i adalah gerak lurus dorongan dari fatamorgana yang dilihat Siti Hajar saat mencari air. Namun ternyata Air ditemukan disekitar Ka’bah, dimana pola gerak yang berlaku pada Ka’bah adalah pola gerak thawaf. Dari seluruh bacaan yang saya pernah baca, hanya Al Qur’an yang memiliki pola yang unik dan tiada duanya. Al Qur’an memiliki pola informasi yang terputus- putus seperti apa yang dilihat seseorang yang sedang melakukan thawaf, dimulai dari hajar aswad, multazam, pintu,hijir Ismail, rukun yaman, dinding yaman dan kembali ke hajar aswad. Dalam satu putaran thawaf kita akan melihat hal yag berbeda beda.
    Pola gerak berputar mengelilingi ruang.
    Para ulama selama ini hanya melakukan sa’i dan belum berthawaf. Mereka menciptakan pola pemahaman garis yang sempit. masing – masing ulama menciptakan pemahaman yang saling bersilangan satu sama lainnya padahal mereka merujuk pada sumberhukum yang sama. Mereka hanya membentuk garis di dalam ruang.
    Kembalilah kepada Al Qur’an dan hadits temukan terus rahasianya.
    Namun demikian para ulama yang berhati bersih dan ikhlas sesungguhnya adalah manusia yang berusaha mencari kebenaran dan mencoba memahaminya dan tak ada yang salah dengan itu semua. Takada yang benar atau salah secara keseluruhan.
    Ingatlah bahwa Al Qur’an adalah sebuah ruang.

  26. bambang says:

    kerumitan dan keberuntungan yang paling nyata…..tatkala manusia bisa bangun dari tidur…

  27. abie says:

    tulisannya keren. tapi seperti tulisan bergenre filsafat lainnya, samar sekali solusi yang ditawarkan. menulis bukan sekedar menulis toh, bukan sekedar memberikan wawasan dan pengetahuan, lebih dari itu, menulis menawarakan solusi.
    tapi overall, asik lah tulisannya. cool

  28. Kafeilmu says:

    “Dalam pandangan saya, Islam jelas menentang adanya relativisme Kebenaran. Dalam Islam yang benar pasti benar dan tidak mungkin salah. Sedang yang salah pasti salah dan tak mungkin benar.”
    Komentar saya … Kebenaran jangan dihantam pokrol … tidak semua bentuk kebenaran se-kaku yang Anda bayangkan. Karena itulah perlunya ilmu, manusia berilmu supaya mencari kebenaran, tentang sampai mana ujung pencariannya, tidak ada yang bisa mengklaim. Islam sendiri menghargai ijtihad (pencarian) seseorang walau dia menemui kesalahan.

  29. Hizb says:

    Sebaiknya anda baca-baca lagi referensi yang berlimpah, sehingga tidak secara wadag memberikan klaim tertentu. Referensi online bagus di http://mika2eel.com. Cari juga referensi bagaimana Ibnu Taimiya dimasa tuanya bertaubat terhadap qaul-qaulnya terdahulu disaksikan oleh beberapa ulama setempat.

    Any way … tulisannya menarik keep posting ! Cheer

  30. ANTOKZYHACK says:

    aku cuma anak petani miskin dan jauh dari peradaban dunia…bagiku mengenai ini cuma satu “WONG URIP KUWI MUNG MAMPIR NGOMBE”, orang hidup itu penuh dengan kehausan……kehausan lahir dan batin….dan carilah air yang memang benar2 suci dan amanh untuk diminum…..sehingga kita dapat berbuat bijak dan arif……..bahasa lahir bisa dikuasai bahasa batin…tetapi bahasa batin tidak bisa dikuasai bahasa pikiran…………

  31. harir says:

    terlmbt memg bpk untk komentar; bgs ap yg ditulis bpk,bahkn org-orang yg tidk berfikr itu yng bs diktakn orng yg bdoh, Al-quran saja itu sudh jlas menjlsknnya bhw kita itu harus berfikir olh krnnya ibnu taimiyah itulh yng bdh.
    bpk izinkan q untuk mngcopy artikel ini ya?

  32. hiday says:

    assalamualaikum
    memang benar angin tdak bisa di logikan. tpi tdak mnutup kemungkinan yg lain bisa di logikan..
    di al-hadist sudah di terangkan barang siapa yang mengkafirkan seseorang sebenarnya dialah yg kafir..
    intinya sebagian besar bisa di logikan. sbagian besar pula tidak bisa di logika kan

  33. ungkenowen says:

    sudah pasti bahwa orang yg tidak mengkafirkan orang2 kafir asli, maka orang yg tidak mengkafirkan kafir asli telah menjadi kafir murtad !!!

  34. Ikhwan says:

    Ibnu Taimiyah dalam hal ini tidak menggunakan kata “kafir”, tapi yang digunakan adalah istilah “zindiq” yang berarti kesalahan logika berfikir. Tapi itu harus dilihat bahwa itu hanya pendapat beliau. Saya mengakui bahwa kebenaran itu mutlak, dan kesalahan itu mutlak (tidak relatif), tapi kemampuan kita untuk mengetahui keneranan adalah “relatif”. camkan itu.

  35. nuri haryanto says:

    alih-alih berpikir tentang logika, nafsu mencari pembenaran-pembenaran melalui putar memutar kata malah terjadi, alangkah lebih baik jika mempergunakan logika untuk hal yang bermanfaat…

    wallahu a’lam

  36. ??? says:

    apa sich yg dipermasalahkan… smua orng pux pendapat yg berbeda2..tp bukan brrti hrus sling mnyelahkan n mmbenrkan toh.. intix hormai pendapat orng laen,, kita cmn bisa meliht dari berbagai sisix dan mnyimpulkn mnrut kemmpuan kita, saya kagum dengan penulisx dan saya kgum jg sama ibn timiyyah. tp ttp kembali ke Al Qur’an dan Al sunnah.

  37. zaxzent says:

    Yang setuju tulisan ini, menyatakan persetujuannya dgn logika
    Yang menolak tulisan ini, menyatakan penolakannya dgn logika
    Yang menulis, menggunakan logika
    Yang comment, menggunakan logika
    Yang menolak bahwa ia telah menggunakan logika, diam saja. Pernyataan sia-sia

  38. SUPRIANTO says:

    ahli bkan brarati tau,al qur’an lah kbnarn nya

  39. Tantra says:

    Tulisan ini cukup bagus , sayangnya tak nenyebutkan dlm kontex apa ulama sekelas ibnu Taimiyah mengtakan ‘statemen’ tsb ???

  40. faizal says:

    Logika itu hanyalah kemampuan berfikir semata, dan kemampuan itu sangat terbatas. Seorang albert einstain pun menemukan rumus mc2 terhenti karena kemampuan berfikirnya, dan dapat melanjutkan dengan bukan menggunakan pikirin melainkan dengan intuisi (suara hati) jadi logika dan pemikiran itu terbatas dan bukan menjadi patokan

  41. Langit Buku says:

    Ibn Taimiyah,.. aku pikir pendapat2nya tdk bisa di sandingkan dgn Ibn Arabi krn akan selalu bertentangan. Ini hnya bgmna penulis memframing sebuah tulisan. jk yg menulis muhammadiyah, mgkn akan mempunyai kecendrungan ke Ibn Taimiyah. dan kali ini saya paham bgmna penulis hendak memframing tulisannya.

  42. yusmarlena says:

    berfilsafat berarti menggunakan logika……beragama menggunakan alquran hadits dan dalil ulama…..

  43. Sandi Kaladia says:

    Di masa kini ke depan Sunda akan melahirkan Para Filsuf Handal yang siap menghancurkan kesalahan cara berpikir & manipulasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Para Filsuf Dunia.
    MARI KITA MEMBUAT KARYA FILSAFAT AGAR KITA MENJADI SEORANG FILSUF, YANG BERTANGGUNG JAWAB MENGHADIRKAN KEMBALI KEBENARAN ILMU SANG MAHA PENCIPTA, sebagai mana yang dilakukan oleh Filsuf Sunda Mandalajati Niskala, yang sebagian hipotesisnya sbb:

    1) Menurut para akhli di seluruh Dunia bahwa GRAVITASI BUMI EFEK DARI ROTASI BUMI.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala SALAH BESAR, bahwa Gravitasi Bumi TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ROTASI BUMI. Sekalipun bumi berhenti berputar Gravitasi Bumi tetap ada.

    2) Bahkan kesalahan lainnya yaitu semua akhli sepakat bahwa panas di bagian Inti Matahari mencapai 15 Juta Derajat Celcius.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala panas Inti Matahari SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN”.
    Beliau menambahkan:“KALAU TIDAK PERCAYA SILAKAN BUKTIKAN SENDIRI”.

    3) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala sangat logis menjelaskan kepada banyak pihak bahwa MATAHARI ADALAH GUMPALAN BOLA AIR RAKSASA YANG BERADA PADA RUANG HAMPA BERTEKANAN MINUS, SEHINGGA DI BAGIAN SELURUH SISI BOLA AIR RAKSASA TERSEBUT IKATAN H2O PUTUS MENJADI GAS HIDROGEN DAN GAS OKSIGEN, YANG SERTA MERTA AKAN TERBAKAR DISAAT TERJADI PEMUTUSAN IKATAN TERSEBUT. Suhu kulit Matahari menjadi sangat panas karena Oksigen dan Hidrogen terbakar, tapi suhu Inti Matahari TETAP SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN.

    4) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala menegaskan: “CATAT YA SEMUA BINTANG TERBUAT DARI AIR DAN SUHU PANAS INTI BINTANG SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN. TITIK”.

    5) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Gravitasi ditimbulkan oleh adanya massa pada suatu Zat.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala: “GAYA GRAVITASI BUKAN DITIMBULKAN OLEH ADANYA MASSA PADA SEBUAH ZAT ATAU BENDA”.
    Mandalajati Niskala menambahkan: “Silahkan pada mikir & jangan terlalu doyan mengkonmsumsi buku2 Barat.

    6) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala membuat pertanyaan di bawah ini yang cukup menantang bagi orang-orang yang mau berpikir:
    a) BAGAIMANA TERJADINYA GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    b) BAGAIMANA MENGHILANGKAN GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    c) BAGAIMANA MEMBUAT GAYA GRAVITASI DI PLANET LAIN YG TIDAK MEMILIKI GAYA GRAVITASI?

    7) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Matahari memiliki Gaya Gravitasi yang sangat besar.
    Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala Matahari tidak memiliki Gaya Gravitasi tapi memiliki GAYA ANTI GRAVITASI.

    8) Pernyataan yang paling menarik dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yaitu:
    “SEMUA ORANG TERMASUK PARA AKHLI DI SELURUH DUNIA TIDAK ADA YANG TAHU JUMLAH BINTANG & JUMLAH GALAKSI DI JAGAT RAYA, MAKA AKU BERI TAHU, SBB:
    a) Jumlah Bintang di Alam Semesta adalah 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000
    b) Jumlah Galaksi di Alam Semesta adalah 80.000.000.000.000
    c) Jumlah Bintang di setiap Galaksi adalah sekitar 13.000.000.000.000

    9) Dll produk Filsafat seluruh cabang ilmu dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala YANG SIAP MENCENGANGKAN DUNIA seperti Wahyu Cakra Ningrat, Trisula Weda, Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Diri, Sastra Jendra, Filsafat Ilmu Pengetahuan & Jagat Raya, dll.

    Selamat berfilsafat
    @Sandi Kaladia

  44. SyifaHade says:

    Disuruh Resume materi ini..

    #matakuliahIlmuLogikaDasar

    Tolong dibantu ya.. ;)

  45. Ding says:

    tentang masalah ini “only god will judge” lah

Submit a Comment