Tauhid : Bukti (12)

Bahwa yang ada adalah Realitas Keberadaan (Realitas Wujud) atau sesuatu selain itu. Yang dimaksudkan dengan Realitas Wujud adalah yang tidak tercampur dengan apa pun selain Wujud, apakah itu suatu keumuman atau suatu kekhususan, suatu batas atau suatu batasan, suatu kuiditas, suatu kekurangan, atau suatu ketiadaan – dan inilah yang disebut dengan “Wujud Perlu (Wajib)”.

Oleh karena itu kita katakan bahwa jika Realitas Wujud tidak ada, maka tidak ada apa pun sama sekali yang ada. Namun konsekuensi ini terbukti (dengan sendirinya) salah; maka premisnya pun juga salah.

Sedangkan penjelasan premis keniscayaan Wujud Awal ini, maka karena sesungguhnya selain Realitas Wujud adalah kuiditas dari kuditas-kuiditas tertentu atau suatu wujud partikular, tercampur dengan ketiadaan atau kekurangan. Dan tiap kuiditas selain Wujud ada melalui Wujud, tidak dengan diri mereka sendiri. Bagaimana (mereka bisa ada tanpa Wujud (Keberadaan))? Karena jika diambil oleh dirinya sendiri, terpisah dari wujud, kuiditas itu sendiri tidak bisa “ada” dengan dirinya sendiri, untuk menjadi majud. Karena untuk menetapkan sesuatu dengan sesuatu yang lain telah mensyaratkan penegakan dan keberadaan (wujud) suatu hal yang lain tersebut. Dan wujud itu –jika itu adalah sesuatu selain Realitas Wujud– tersusun atas Wujud per se (atau “Wujud qua Wujud”) dan suatu partikularitas lain. Namun setiap partikularitas selain Wujud adalah tiada atau memiliki sifat ketiadaan. Maka setiap yang tersusun (dari kuiditas partikular dan Wujud) adalah posterior terhadap kesederhanaan Wujud dan dalam keadaan membutuhkan Wujud.

Maka ketiadaan (atau “nonbeing”) tidak masuk ke dalam eksistensi dan kemunculan aktual suatu benda, walaupun ia mungkin masuk ke dalam definisi dan konsepnya. Karena untuk menegaskan konsep apa pun dari sesuatu dan untuk memprediksikan konsep itu dari hal itu –apakah (konsep itu) kuiditas atau sifat lain, dan apakah itu ditegaskan atau ditolak oleh sesuatu- selalu mensyaratkan wujud dari hal itu. Diskusi kita selalu kembali ke pada Wujud: apakah terdapat regresi tak terhingga (prediksi-prediksi dan subyek-subyek) atau seseorang akhirnya tiba pada sebuah Wujud Mutlak, tidak tercampur dengan sesuatu yang lain.

Maka telah menjadi jelas bahwa Sumber eksistensi segala sesuatu yang ada adalah Realitas Murni Wujud, tidak tercampur dengan hal apa pun selain Wujud. Realitas ini tidak dipagari oleh definisi, batasan, ketaksempurnaan, potensialitas kontinen atau pun kuiditas apa pun; tidak juga Realitas ini tercampur oleh keumuman apa pun, baik genus, spesies, ataupun pembeda, tidak juga Realitas ini tercampur dengan aksiden khusus ataupun umum. Karena Wujud lebih dahulu dari seluruh deskripsi aksidental bagi kuiditas. Dan yang tidak mempunyai kuiditas selain Wujud tidak dibatasi oleh keumuman atau pun kekhususan, dan tidak mempunyai beda khusus dan tidak mempunyai partikularitas yang terpisah dari DzatNya Sendiri. Realitas ini tidak mempunyai bentuk, sebagaimana Ia juga tidak mempunyai agen atau tujuan. Sebaliknya, Realitas ini adalah BentukNya Sendiri, dan Realitas ini yang memberi bentuk pada segala sesuatu, karena sesungguhnya Ia Sempurna DzatNya. Dan Realitas ini adalah kesempurnaan segala sesuatu karena Dzatnya diaktualisasikan dalam segala aspek.

Tidak ada yang dapat menguraikanNya atau menyingkapkanNya selain Ia Sendiri, dan tidak ada pembuktian atasnya selain DiriNya ketika Ia berfirman:

 

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ…[٣:١٨]

“Allah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia…” (QS 3 (ĀLI IMRĀN):18).

Karena KetunggalanNya bukanlah merupakan ketunggalan partikular yang ditemukan pada suatu individu dari suatu hal yang alamiah; tidak juga merupakan ketunggalan generik atau spesifik yang ditemukan pada setiap gagasan umum atau setiap kuiditas. KetunggalanNya tidak juga merupakan ketunggalan konjungtif yang ditemui ketika sejumlah benda diatur atau disatukan menjadi sebuah hal yang tunggal; tidak juga merupakan ketunggalan hubungan yang ditemukanan dalam kuantitas-kuantitas dan hal-hal yang terukur. Tidak juga, sebagaimana yang akan Anda pelajari, merupakan ketunggalan-ketunggalan relatif yang lain, seperti ketunggalan dengan kemiripan, keserbasamaan, analogi, korespondensi, reduplikasi –walupun filsuf (tertentu) telah membolehkan ketunggalan tersebut- kongruensi, atau jenis-jenis lain ketunggalan yang bukan merupakan Ketunggalan Sebenarnya. Tidak, KetunggalanNya bukanlah (ketunggalan-ketunggalan relatif ini, tidak diketahui dalam intinya yang paling hakiki, sebagaimana ZatNya –Maha Mulia Ia- kecuali bahwa KetunggalanNya adalah Sumber seluruh ketunggalan-ketunggalan (lain ini), sebagaimana wujudNya adalah Sumber seluruh wujud-wujud (partikular). Maka: Tidak ada yang kedua bagiNya.

Dengan cara yang sama, Pengetahuan UniterNya adalah Realitas Pengetahuan yang tidak tercampur dengan kebodohan, sehingga Ia adalah Pengetahuan tentang segala sesuatu dari semua segi. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang seluruh Sifat-sifat KesempurnaanNya (yakni, Kehidupan, Kekuatan, Kehendak, dan lain-lain – yang juga Tunggal dengan Zat dan WujudNya).